Tentang Sebuah Kebaikan !! Refleksi Seorang Pendeta dari Lereng Gunung Ciremai
Di ajang Master Chef US, ada satu momen yang tak mudah dilupakan. Jessie, salah satu semi-finalis, mendapati dirinya kelabakan, ia lupa mengambil mentega dari dapur, padahal butter itu krusial dan sangat penting sekali untuk menyempurnakan hidangan dagingnya.
Dalam kondisi genting, ia meminta bantuan dari Natasha, finalis yang mejanya paling dekat. Natasha memiliki tiga batang mentega utuh, tapi ia menolak memberikan bahkan hanya satu sendok pun. Alasannya sederhana tapi tajam: kemungkinan besar ia khawatir, memberi butter sama saja dengan memberi peluang kemenangan pada Jessie.
Jessie lalu berpaling ke peserta lain, Luca. Tanpa banyak tanya, Luca langsung memberikan lebih dari yang diminta. Dengan tenang ia berkata, “Saya tidak percaya satu batang mentega bisa membuat masakan orang lain jauh lebih unggul. Tapi kalau memang iya, bagus untuk dia. Saya mungkin pulang hari ini, tapi besok saya masih bisa menatap diri sendiri di cermin.”
Kalimat itu dalam sekali. “Tomorrow I can still look at myself in the mirror.” Itulah, barangkali, yang semestinya menjadi alasan utama kita dalam berbuat baik.
Banyak orang baik yang saya kenal justru sering kecewa. Mereka merasa hancur karena kebaikannya tak dibalas dengan ketulusan yang sama. Tak sedikit pula yang bertanya dalam hati, “Mengapa hidup saya tetap sulit padahal saya sudah berusaha jadi orang baik?”
Padahal, ketika kita berbuat baik dengan niat untuk mendapatkan sesuatu balasan, pengakuan, atau rasa aman kita sedang membangun harapan di tempat yang rapuh. Dan saat harapan itu tak terpenuhi, kecewa pun datang sebagai tamu yang tak diundang.
Karena itu, berbuat baiklah bukan demi imbalan. Tapi supaya kita tetap bisa berdamai dengan diri sendiri. Supaya kita tidak perlu merasa malu pada hati nurani kita sendiri. Sebab kalau kita malu pada orang lain, kita bisa menjauh. Tapi kalau kita malu pada diri sendiri, kita mau lari ke mana? Bagaimana bisa tidur nyenyak di malam hari, jika kita tahu betul apa yang telah kita lakukan bertentangan dengan suara hati, atau nurani kita ?
Kembali ke cerita tadi—siapa kira-kira yang keluar sebagai pemenang? Jessie? Natasha? Atau Luca?
Jawabannya: Luca.
Meski ia memilih untuk membantu “saingan”-nya, kebaikannya tidak menjatuhkannya. Ia tetap menang. Itu bukti, bahwa kita bisa jadi orang baik tanpa harus kalah. Kita bisa berprestasi tanpa harus menjadi licik. Dan kita bisa melangkah lebih jauh, tanpa perlu menginjak orang lain.
Luca tidak hanya memenangkan kompetisi tapi dia juga memenangkan hati seluruh penonton yang menyaksikan dirinya beraksi.
https://www.youtube.com/shorts/v-odVTv5Pwchttps://www.youtube.com/shorts/v-odVTv5Pwc
#Memayu Hayuning Bawana