Titik Terendah : Kebaikan Terbaik
By Wisanggeni
Pagi ini, seperti biasa, aku terbangun di waktu subuh. Kening istriku kucium lembut sebelum membangunkannya untuk salat berjamaah. Percikan air wudhu terasa begitu segar, bukan sekadar dingin, melainkan seakan memberi energi besar untuk kembali mengarungi dunia. Usai sujud dua rakaat kepada Sang Pencipta, doa-doa lirih terpanjatkan dengan seksama.
Tak lama, aku membangunkan kedua anakku dari lelapnya. Kebiasaanku: mencium pipi dan kening mereka, lalu memanggil namanya penuh kasih. “Sina sayang, bangun… Burlian ganteng, bangun…” Aku percaya, ungkapan yang lahir dari kelembutan lebih mengena daripada bentakan yang justru melukai. Perlahan mereka pun terjaga dan bersiap mandi bergantian.

Sekitar pukul 06.30, sebelum mengantar Sina ke sekolah, aku sempat membuka gawai. Entah mengapa, pagi itu linimasa penuh kisah yang mengaduk perasaan, membuat mata panas dan basah. Ada kakek tua yang empat tahun tak pulang dari Bali ke tanah Sunda; ada jua seorang wanita muda yang kehilangan suami, anak, dan orang tuanya dalam waktu berdekatan.
Tak berhenti di situ. Sepanjang perjalanan dari Kedung Arum ke Winduhaji tempat sekolahnya Sina, mataku kembali diperlihatkan wajah-wajah kehidupan di titik terendah: ibu renta yang mengais sampah, kakek yang sudah bekerja sejak pagi buta, hingga anak sekolah dengan tas bolong dan seragam lusuh.
Aku terdiam. Pikiranku mundur, bukan hanya seminggu atau sebulan, tapi jauh ke belakang. Setahun, sepuluh tahun, bahkan dua puluh tahun lalu. Aku teringat masa-masa aku sendiri berada di titik terendah. Saat itu rasanya mustahil bisa bertahan. Namun nyatanya, semua itu bisa kulewati. Kini aku melihatnya justru sebagai pijakan untuk melompat lebih jauh, melampaui ekspektasi terhadap diriku sendiri.
Aku ingin berbagi, apa yang kulakukan setiap kali berada di titik terendah. Mungkin terdengar sederhana, klise atau mungkin aneh. Tapi inilah yang benar-benar kulakukan.
Selain menangis dalam diam, aku justru mencari siapapun untuk kutolong. Apa saja. Orang tua yang terlilit hutang, pedagang yang kehabisan modal, remaja yang terjebak kenakalan, pemabuk yang tak sadarkan diri, penjudi yang hampir bunuh diri. Bahkan makhluk kecil: burung yang anaknya terjatuh dari sangkar, kecoa yang terbalik, kucing yang kelaparan. Pernah juga hanya sekadar memindahkan batu atau sampah dari jalan.
Awalnya aku tak sadar, tapi setelah tiga puluh empat tahun hidup, aku melihat itu sebagai kebiasaan yang kujaga yang menjadi pola. Bisa jadi doa mereka atau bahkan doa tanpa suara dari makhluk-makhluk itu menutup aibku, meringankan bebanku, atau memberi jalan kebaikan untuk hidupku.
Aku sangat paham, manusia yang sedang diuji dengan pekerjaan, keuangan, kesehatan, bahkan kehidupan. Saat berada di titik terendah, yang paling kita butuhkan adalah bantuan instan. Namun aku percaya: kebaikan yang dilakukan ketika kita tidak sedang baik-baik saja, adalah kebaikan yang paling baik. Tuhan Maha Adil dalam menakar: Ia tahu siapa hamba yang diuji lalu berhasil, dan siapa yang hanya senang dipuji lalu tidak berhasil. Dengan berbuat baik saat kita tidak sedang baik bisa jadi ini adalah cara tuhan memberi nilai besar kepada kita. Benar orang bijak berkata “Selalu ada kesempatan dalam kesempitan, dan selalu ada kemudahan dalam kesusahan”. Itulah yang aku rasakan.

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 07.30. Sinar mentari menembus dedaunan yang bergoyang ditiup angin, seolah menari menyapaku di halaman sekolah SD Linimasa Kuningan. Deru motor dan mobil kian ramai, parkiran sekolahpun penuh oleh orang tua yang mengantar anaknya. Aku tersadar: sudah waktunya berangkat bekerja, mengais rezeki untuk keluarga tercinta.
Teruntuk kalian di luar sana yang sedang diuji dalam titik terendah, peluk jauh dan doa dariku selalu menyertai. Ingatlah: pelangi terindah lahir dari badai terdahsyat. 🌈
#Memayu Hayuning Bawana
Quorahttps://sekalaniskala.quora.com/
