Udin Gila
(Siapakah orang gila itu? Kita atau Mereka?)
Udin, santri yang hobi main bola kembali berulah. Ia ketahuan tidur melenguh dikala yang lain shalat subuh. Penyebabnya adalah semalam suntuk Ia begadang setelah menyaksikan tim favoritnya meradang di Final Euro 2004. Siapa lagi kalo bukan negeri para dewa yang berhasil mempermalukan tim C.Ronaldo CS. Memang sejak Ia mengenal Ronaldo via PS 2, gim konsol yang ramah anak ramah, pemuda dan bapak – bapak. Ia langsung kepincut dengan gaya sombrero atau nutmeg khas CR7 ketika menggiring bola.
Akibat ulah konyolnya tersebut, Ia benar – benar mendapat sanksi atau hukuman dari Abah Kiai. Tidak tanggung – tanggung, Ia dibanjur oleh santri senior saat dibangunkan lepas subuh. Disaksikan oleh santri yang lain lalu ditertawakan santriwati saat dirinya masuk masjid dikala yang lain keluar. Sungguh malang nasibmu Din. Namun, bukan Udin namanya kalo tidak penuh kontroversi dan aksi.
Sehabis ia dipermalukan, dibuat jera agar tidak lagi tiduran saat subuhan. Ia diberi tugas untuk ngarit mencari runput hari ini di sekitaran parit. Tugas yang lumayan berat untuk santri pemalas seperti Udin. Tapi apa daya tangan tak sampai. Udin tidak bisa ngeles lagi seperti sebelumnya. Ia menerima apa adanya hukuman yang diberikan kepadanya.
Namun, di luar konteks kontroversinya itu. Ada hal yang masih jadi pertanyaan bagiku dan orang-orang. Yakni ketika kemana – mana Ia selalu mengendarai sepeda ontel yang di depan sadelnya Ia ikatkan sarung dan satu stel pakaian. Seperti saat itu ketika Ia minta ditemani ngarit di sekitaran parit. Meskipun hukuman itu diperuntukan untuknya, selaku sahabat yang baik. Saya turut menemaninya, berangkat menuju desa tetangga untuk mencari rumput di sana.
Parit yang kami tuju memang memiliki padang rumput yang cukup luas. Serejang tiba di dekatnya kita akan langsung melihat hamparan rumput hijau yang memanjang lengang. Ia tergelar seperti permadani alam yang begitu elegan. Namun sayang – seribu sayang, belum genap rasaya kerana kami belum menemukan pula bunga di tepi jalan yang alangkah Indahnya. Seperti di dalam syair lagu – lagu cinta yang sempat mendunia.
Sebelum sampai di sana, sambil berboncengan sepeda saya beranikan untuk bertanya. Untuk apakah pakaian yang sering Ia bawa. Namun seperti biasanya, Ia hanya menjawab untuk orang gila. Sungguh jawaban yang tidak diharapkan. Begitu mudah keluar dari mulutnya itu namun tanpa menjelaskan sesuatu. Masih belum mengerti maksudnya. Saya Kembali bertanya.
Din, jang nu gelo kumaha maksudna? Beuki teu ngarti urang
(Din, untuk orang gila bagaimana? Ga ngerti.
Pokonamah jang nu gelo we, kege ngarti geura
(pokoknya buat orang gila aja, nanti juga mengerti)
Selama bertahun-tahun belum menemukan jawabanya. Hari itu dalam perjalanan untuk ngarit di sekitaran parit. Kami harus bersiah kerana gerimis mengundang. Di saat orang – orang sibuk bekerja mengais validasi. Saat Buruh melepas peluh dengan bekerja sungguh-sungguh.
Jawaban atas pertanyaan itu dijawab dengan sebuah kisah cinta manusia di depan pasang mata. Saat hujan memutuskan turun perlahan, kami lanjut ngiuhan (berteduh) mencari perlindungan dari guyuran hujan. Tepat di samping gedung yang kami gunakan untuk berlindung.
Terlihat sosok pria paruh baya. Ia seperti kedinginan, tanganya mendekap badan, telanjang bulat dengan jenggot yang lebat. Mirip Hugh Jackman saat berperan sebagai Logan, Kumis tebal, rambut gimbal dengan kulit kusam mirip Alexander Skarsgard yang dikenal sebagai Tarzan. Ia juga tersenyum- senyum sendiri mungkin sedang membayangkan bidadari mandi berhiaskan pelangi. Sebut saja pria paruh baya itu orang gila.
Saya mengambil langkah sedikit menjauh. Memilih mengamankan diri tidak dekat dengan orang gila tadi. Sehasta dua hasta hingga cukup jauh berada. Namun berbeda dengan Udin, Ia justru mendekat. Sambil memarkirkan sepeda ontelnya, ia melepas ikatan pakaian yang berada di dekat sadel depan. Tanpa diduga tanpa disangka, Ia langsung memakaikan Pakaian yang dibawanya kepada pria baruh baya di depanya. Satu persatu Ia pakaikan, mulai celana hingga atasan. Pria baruh baya itu juga seraya mengerti apa yang dilakukan Udin. Ia menjulurkan kakinya, lalu berdiri. Mengangkat tanganya, lalu duduk kembali. Udin lakukan itu dengan sungguh – sungguh, penuh kehati-hatian dan perhatian. Sama sekali tidak terburu-buru karena takut maupun merasa bau.
Ternyata, inilah jawaban agung dari pertanyaan yang selama ini menggantung. Memang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Jawaban lepas yang fasih dari mulut Udin sebetulnya memang jawaban yang sangat tepat untuk diutarakan. “Baju jang nu Gelo”, baju untuk orang gila.
Sebelum Udin meninggalkan pria paruh baya tadi, Saya perhatikan lamat-lamat mata yang agak gelap nyaris sembab itu meneteskan air mata. Mungkin saja, andai pria itu dapat berbicara, ia akan mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya. Air mata itu bukti nyata ungkapan nurani sosok manusia. Seperti apapun keadaanya. Ia tetap manusia yang memiliki hati dan jiwa. Sosok yang tadi tersenyum-senyum sendiri serejang berubah menjadi masygul. Namun masygul kerana berbunga bukan kerana dera.
Pemandangan cendayam siang itu membuat hatiku terpesona, hingga cukup lama tepekur. ‘Tak lama Udin menyadarkanku dari cenungan itu.
Woi, ker naon? (woi, lagi apa?)
Eh din, ngagetkeun wae, (eh din, ngagetin aja) jawabku singkat
Atuh da kalah ngalamun maneh mah, tah ieu maksud urang mah baju jang nu gelo teh, ngarti ayeunamah wa?
(kenapa malah melamun aja, nah ini yang dimaksud baju untuk orang gila itu, udh ngerti skr?
Enya enya, ngarti ayeunamah (ia ia, ngerti sekarang mah)
Jadi, rupanya Udin sudah bertahun – tahun membiasakan diri menyiapkan baju lungsuran untuk orang gila. Ia merasa Iba, meskipun mereka orang gila yang tidak berdaya tapi mereka tetaplah manusia. Salah satu ras tertinggi yang ada di dunia.
Hanya memang keadaanya saja yang berbeda. Bahkan sebetulnya mereka itu bisa jadi lebih mulia dari diri kita. Apa buktinya ? Udin menjelaskan bahwa dalam suatu keterangan dijelaskan Orang gila itu termasuk salah satu orang yang masuk surga tanpa dihisab, amalanya tidak akan diperhitungkan, dosa-dosanya tidak akan diperdebatkan. Ia masuk surga melalui jalan yang memang telah dipersiapkan untuknya.
Tugas kita sebagai orang yang waras berlakulah adil kepada siapa saja, sekalipun orang gila. Apakah adil ketika kita berpakaian rapih beradat sedangkan Ia bertelanjang bulat? Tajamkanlah kepekaan kita kepada sesama bagaimanapun keadaanya. Layakkah disebut manusia ketika sesamanya yang kurang beruntung kita anggap gila lalu dibiarkan begitu saja? Jika seperti itu, sejujurnya dengan air mata tadi. Itulah yang layak kita sebut sebagai orang gila yang waras.
Sedangkan golongan kita yang penuh drama. Seperti kasus korupsi dimana-mana, anak membunuh Ibunya, ayah memperkosa anaknya, sahabat membunuh karibnya, bohong yang membudaya atau tradisi menipu yang melembaga sungguh layak disebut orang waras yang gila.
Lalu siapakah sebetulnya orang gila itu ? Kita atau mereka?

Pic : Hulondalo
#MemayuHayuningBawana