Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

Urutan kemauan, kemampuan, dan punya waktu/kesempatan, dalam hidup.

Selamat siang Kawans Sekala Niskala, hari ini mau cerita dan ngobrol tentang urutan pedoman hidup, terutama yang selama ini saya pegang. Tentang mana ...

lovelie-light 3 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel Urutan kemauan, kemampuan, dan punya waktu/kesempatan, dalam hidup.

Selamat siang Kawans Sekala Niskala, hari ini mau cerita dan ngobrol tentang urutan pedoman hidup, terutama yang selama ini saya pegang.

Tentang mana yang lebih dahulu, kemauan, kemampuan dan punya waktu. (dalam urutan yang seperti di atas). Mana yang biasa kalian dahulukan dalam prioritas hidup ?

Saya biasanya mencontohkan dari aktivitas sehari-hari, seperti misalnya acara ketemuan / meet up dengan teman-teman. Yang biasanya sering banyak terjadi di bulan puasa / bulan Ramadhan di banyak WA group, yaitu ajakan untuk buka puasa bersama.

Urutannya adalah ada kemauan dulu.

Ketika ada ide untuk ajakan berbuka puasa bersama atau sekedar meet up biasa, yang pertama dipikirkan adalah tentang kemauan lebih dahulu. Siapa yang mau dulu ? Yang punya keinginan untuk hadir ataupun berkontribusi dalam pertemuan itu.

Setelah itu masuk ke ranah kemampuan, apakah orangnya yang sudah mau, memiliki kemampuan untuk ketemuan di tempat yang disetujui bersama. Dan yang terakhir adalah tentang waktu, apakah ada waktu luang yang bisa digunakan ?

Seringkali yang bikin acaranya gagal adalah soal pengaturan waktu, yang masuk kepada urutan ketiga. Acara buka puasa bersama ataupun ketemuan rame-rame, seringkali gagal karena menyamakan waktu yang sulit. Ada yang memiliki kesibukan A, ada yang sudah terlanjur punya janji B, dan ada yang punya kebutuhan lain untuk ada di tempat lain sehingga tidak sempat. Ini karena soal pengaturan waktu adalah hal yang paling nyata, yang paling mudah dilakukan.

Setelah itu, soal kemampuan. Ini yang mulai agak samar. Biasanya banyak yang tidak mau mengakui ketidakmampuannya, dalam hal ini kondisi ekonomi. Sehingga hampir tidak ada yang menggunakan alasan tidak mampu dalam janjian (ketika melihat tempat janjiannya yang terkesan mahal), biasanya menyamarkannya dalam kondisi tidak sempat. Tapi untuk yang ini tidak terlalu banyak masalah, karena kemampuan masih bisa dihandle ketika kondisinya sedang bersama-sama.

Yang utama dan paling nggak mau diakui, adalah tentang kemauan. Kondisi yang “tidak mau bertemu” beramai-ramai, paling disamarkan. Biasanya paling mudah dengan alasan tidak ada waktu. Dan sebagai pihak yang mengundang pun sebaiknya tidak perlu terlalu jauh masuk ke area dan ranah yang ini. Karena percuma.. orangnya juga nggak akan ngaku kok..pada dasarnya udah nggak mau aja.

Ini sebabnya kalau acara mendadak, sering lebih nyata dan lebih besar kemungkinannya untuk kejadian, semua karena urutan 3 hal ini. Dalam acara mendadak, seringkali orang lebih jujur, karena yang keluar pertama adalah soal mau atau tidak maunya dulu. Belum sampai pemikiran yang terlalu panjang, soal kemampuan dan tidak sempat. Tapi semakin panjang waktu berpikirnya, semakin mungkin berubah kemauannya.

Demikian juga dalam sebuah hubungan dalam berpasangan.

Yang layak dikontrol adalah soal kemauan dulu. Mau nggak bersama-sama berpasangan ? Karena ini paling bisa dikontrol dari pasangan, pakai apa kontrolnya ? Pakai komitmen di awal.

Percuma soalnya mencoba mengontrol bagian kemampuan dan punya waktu, karena ini semua tergantung pada kemauan orang nya. Dan bisa dikaburkan serta disamarkan (mirip seperti cerita buka puasa bersama di atas).

Atau misalnya ketika mengontrol pasangan untuk berhenti merokok..paling maksimum yang layak dikontrol adalah tentang kemauan. Mau tidak berhenti merokok ? Kalau mau, bisa dikontrol pakai komitmen di awal. Nanti urusan kemampuan dan punya waktu bisa si pasangan yang atur itu, saling membantu, support dan menguatkan.

Tapi kalau prioritas pertama saja sudah tidak mau, mencoba mengontrol waktu dan kemampuan, hanya akan bikin repot. Harus dijaga setiap waktu, diawasi setiap hari, dan dicontrol. Udah kayak sama anak kecil aja, yang masih pengen main, tapi dilarang. Pasti akan curi-curi waktu (apalagi kalau bandel seperti saya).

Prioritas 3 hal ini yang jadi pegangan selama ini, dalam melakukan sesuatu.

Jadi cari tahu tentang kemauan saja dulu, ikat kemauannya dengan sebuah komitmen. Setelah itu, biar soal kemampuan dan soal punya waktu diatur sendiri-sendiri melalui sebuah komitmen.

Semoga share ini bisa punya kegunaan dalam kehidupan..

image

YaBoyDusty at Pinterest

Cheers,

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar