Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
WPM [SAGA] wpm-saga cerita gaib kisah klenik makhluk-halus manusia-gaib misteri mistik novel novella rumor saga snu spiritual supernatural supranatural waroeng-podjok-mangkoes wpm

BOOK 1, Chapter #6: TEMAN BARU, TEMAN DARI KECIL

“Eh Bayu, selamat pagi”, seorang teman kost menyapa nya ketika Bayu baru keluar dari kamarnya dan hendak berangkat kerja. Bayu pun menganggukan k...

lovelie-light 15 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel BOOK 1, Chapter #6: TEMAN BARU, TEMAN DARI KECIL

“Eh Bayu, selamat pagi”, seorang teman kost menyapa nya ketika Bayu baru keluar dari kamarnya dan hendak berangkat kerja. Bayu pun menganggukan kepalanya menanggapi sapaan pagi itu.

Senin pagi, yang rasanya selalu lebih hectic suasananya daripada hari yang lain di kostan Bayu. Biasanya selalu banyak penghuni kost yang terlambat bangun, selalu ada yang terburu-buru berangkat kerja, dan selalu penuh dengan berbagai suara dari kesibukan para penghuninya.

Segera setelah Bayu mengunci pintu, dia pun beranjak menuju dapur untuk membuat kopi. Bajunya sudah rapih dan ransel kerjanya yang berisi laptop juga sudah menempel di punggungnya. Tiba waktunya untuk ngopi sejenak, sebelum memulai perjalanan menuju ke kantornya.

“Mas Bayu, udah sarapan Mas ? ”, ada lagi penghuni perempuan yang menyapanya di pintu dapur.

“Belum Mbak, ini baru mau ngopi. ”, jawab Bayu dengan tersenyum.

Sesampainya di dapur, Bayu mulai membuat kopi di mug miliknya yang berwarna hitam. Air panas yang menyiram kopi pagi itu membuat kopi gilingnya mengeluarkan aroma dengan kenikmatan tersendiri di pagi itu.

“Ngopi Bay ? Bareng lah..duduk sini bareng..”, dua orang yang duduk di dapur kost mengajak Bayu untuk duduk bersama mereka.

Sampai di sini Bayu mulai merasa janggal, bahwa ada yang aneh di suasana pagi ini. Kenapa daritadi banyak sapaan ya yang ditujukan ke dirinya ? Biasanya setiap pagi, Bayu selalu merasa semua orang sibuk dengan kegiatan dan aktivitasnya masing-masing, sehingga tidak ada yang sempat untuk menyapa dirinya.

Beberapa penghuni lain yang berpapasan dengan dirinya pun masih sempat menganggukkan kepala dan tersenyum kepadanya, walaupun tanpa sapaan basa basi. Beda cerita dengan hari-hari lainnya, dimana semua sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Paling tidak, itu yang dirasakan oleh Bayu, yang merasa aneh di suasana pagi itu.

Bayu pun mengambil tempat duduk di sebelah dua orang pemuda, yang juga penghuni kost itu.

“Bay, yang kemarin itu keren banget Bay.”, ujar salah satu pemuda yang duduk di sebelah Bayu, sambil menyeruput kopinya.

“Yang mana sih ? ”, tanya Bayu basa-basi.

“Yang di tempatnya Mbak Sarah laaaah..”, ujar teman nya.

Bayu pun tertawa dalam hati, masak iya dia mau bilang kalau itu semua orang bisa kok dilakukan oleh semua orang. “Biar saja lah…” , pikir Bayu. “Sekali-sekali lah menikmati dikenal dan dianggap oleh banyak orang gini..”

“Oooh itu, gak lah…kan itu cuma bantu Mbak Sarah aja kok..bukan yang gimana-gimana juga ”, ujar Bayu dengan cool.

“Udah lama Bay belajar gitu-gitu ? ”, kata pemuda yang pertama tadi.

“Iya Bay, bagi-bagi ilmu lah ke kita-kita Bay, jangan dimakan sendiri. , kata temannya.

“Eh susah nggak sih Bay belajar gitu ? Pasti dari kecil ya belajarnya ? Temen sih ada yang katanya belajarnya dari dia kecil, baru bisa begitu..”, ujar pemuda yang pertama lagi.

Sementara Bayu kebingungan mau menjawab rentetan pertanyaan itu, kedua pemuda itu tiba-tiba terhenti dan berujar, ” Eh Bay, nanti kita ngobrol lagi ya..kita duluan..”, kemudian beranjak keluar dari dapur sambil membawa gelas kopinya.

Di depan pintu dapur, kedua pemuda itu berpapasan dengan Mbak Sarah yang baru masuk ke dalam dapur, dengan masih menggunakan baju rumah, tanpa baju kantornya. Kelihatannya hari ini Mbak Sarah nggak masuk kantor, sementara matanya masih bengkak dan sembab. Raut mukanya sudah lebih segar dari kemarin, meskipun masih kelihatan kuyu dan agak pucat.

“Mbak..mari…”, ujar dua pemuda itu sambil menganggukkan kepalanya.

Mbak Sarah hanya membalas dengan anggukan kecil dan senyuman saja, tanpa mengeluarkan kata-kata.

Seketika ruangan dapur menjadi sepi, tinggal Bayu yang terlambat mengambil keputusan untuk keluar dari dapur, karena sudah keburu disapa oleh Mbak Sarah, “Pagi Bay.”

“Eh..pagi Mbak Sarah..gimana pagi ini, udah enakan kah ?”, Bayu juga bingung apanya yang enakan, tapi malah sibuk merasakan rikuh dan salah tingkah menghadapi situasi seperti ini.

“Sudah Bay,” jawab Mbak Sarah singkat, sambil memunggungi Bayu.

Sejenak keheningan meliputi keduanya, Bayu hanya menatap mug kopinya, sementara Mbak Sarah memunggungi Bayu sambil membuat sarapan paginya dan teh hangat. Tidak lama kemudian, Mbak Sarah berbalik dan mengambil tempat duduk di depan Bayu.

“Bayu, mau tanya dong..kemarin saya kenapa ya ? ”, tanya Mbak Sarah dengan pelan, setelah duduk dan meminum teh hangatnya.

“Eh…nggak tau sih Mbak..tapi mungkin Mbak Sarah stress dan banyak pikiran barangkali. Makanya kemarin jadi begitu. ”, dengan terbata-bata Bayu menjawab dengan jawaban yang seadanya. Dia tahu sih, pasti Mbak Sarah nggak akan bisa puas dengan jawaban seperti itu, tapi otaknya seakan berhenti dan nggak bisa mencari jawaban yang lebih bagus lagi.

“Lagi stress sih emang Bay…lagi banyak pikiran..”, Sarah meneruskan perbincangan itu.

“Nah kan, justru itu..harusnya aku yg nanya…Mbak Sarah lagi kenapa ?”, tanya Bayu, sambil agak lega dalam hati, karena bisa membalikkan pertanyaan.

“Siangnya baru dapet kabar kalau pacarku kepergok lagi selingkuh sama cewek lain Bay, dan begitu orangnya cerita..langsung aku putusin..”, Mbak Sarah tertunduk melihat gelas tehnya sambil bercerita.

BZZZZZTTTTTT…BZZZZZTTTTTT…BZZZZTTTTTTT…

Tiba-tiba terasa vibrasi dari hanphone Bayu, pertanda ada panggilan atau message yang masuk. Ketika Bayu melihat HPnya, ada panggilan masuk dengan nama “Pak Burhan” di HPnya.

“Mbak, maaf banget, sebentar ya..Bossku nelphone, takut ada urusan kantor yang urgent..”, kata Bayu kepada Mbak Sarah.

Mbak Sarah hanya mengangguk saja sambil tersenyum tipis.

Bayu pun membalikkan badan dan menekan tombol “ANSWER” di handphonenya.

“Bayu di sini Pak..”, jawabnya di telephone.

“Pagi Bay..”, suara Pak Burhan menjawab di telephonenya. “Bay, kamu belum sampai di kantor kan ? Mau ngabarin kamu, kalau saya hari ini belum bisa masuk kantor. Anak saya, Astrid, yang kemarin sakit, sekarang diopname Bay. Jadi saya harus nungguin dia hari ini.”

“Waduh..gimana kondisinya Pak ? Kok bisa diopname gitu ? ”, Bayu nggak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.

“Memburuk Bay, minta tolong doanya ya dan teman-teman kantor. O iya, kalau ada dokumen-dokumen keuangan yang harus keluar hari ini, minta tolong Godam aja untuk antar ke RS Bay, nanti saya tandatangani di sini. ”

“Baik Pak, nanti saya siapkan document-document yang urgent. Pak Burhan konsen aja sama kondisi kesehatannya Astid Pak. ”, ujar Bayu.

“Oke Bay, makasih banyak ya. Titip kantor ya Bay, sama minta doanya juga. BIngung saya nih kalo udah soal anak..haduuuhhh…”, Pak Burhan mulai bercerita tentang keresahannya di urusan keluarga, satu hal yang jarang sekali dia lakukan di depan anak buahnya.

“Baik Pak, baik..pasti akan didoakan Pak..”, ujar Bayu.

Panggilan telephone pun ditutup setelah keduanya mengucapkan salam perpisahan.

“Aduh Mbak Sarah, Bossku nelephone lagi, dia nggak masuk kantor. Banyak dokumen yang harus aku siapkan deh di kantor untuk Beliau. Mohon maaf ya Mbak, aku pamit duluan, harus buru-buru ke kantor. ”, ujar Bayu. Sebenarnya sih, dalam pikiran Bayu kondisinya tidak begitu urgent juga, malah lebih santai. Karena Pak Burhan nggak ada, jadi Bayu bisa lebih santai menyiapkan dokumen-dokumennya, paling baru siang nanti pas makan siang diantar oleh Godam, Office Boy nya, ke Rumah Sakit untuk ditandatangani Pak Burhan.

Tapi suasana rikuh dan kikuknya Bayu, bikin dia ingin segera pergi dari tempat itu. Sungguh nggak nyaman sama sekali ada di suasana kayak gini.

“Iya, Bay…nggak apa-apa kok..tapi sebentar aja Bay…”, ujar Mbak Sarah.

Tiba-tiba Mbak Sarah memegang tangan Bayu, sambil berkata, “Bay, terima kasih ya kemarin. Kalau nggak ada kamu, pasti kondisi ku nggak membaik deh. Makasih banyak ya Bay. ”

Pengen banget rasanya Penulis memasukkan raut muka Bayu yang salah tingkah, karena susah dijelaskan dengan kata-kata.


Di perjalanan menuju kantornya, Bayu melihat Waroeng Podjok Mangkoes sudah buka dan Mas Sakti kelihatan di depan sedang membereskan etalase depan. Segera Bayu pun mampir dan menyapa Mas Sakti.

“Mas Sakti..”

“Eh Bay, mau berangkat ke kantor nih ? ”, sapa Mas Sakti.

“Iya Mas, mau jalan ini ke kantor. Mas, mau cerita nih…”, kata Bayu.

“Cerita apa Bay ? ”

“Di kost ku Mas, jadi pada nyapa sekarang, gara-gara peristiwa kemarin sama Mbak Sarah itu. Padahal baru sehari loh, biasanya kalo pagi gak ada yang nyapa-nyapa, pada cuek-cuek aja dan sibuk sendiri. Eh tadi pagi, tiba-tiba aja disapa banyak orang, diajak duduk bareng, diajak ngobrol..”

“Hahahhahaha..terus ? Apa yang kamu rasain dari situ Bay ?”

“Bingung sih Mas mau jawab apa. Kan Mas Sakti bilang kalo itu sebenernya bisa dilakuin sama semua orang kan ? ”

“Iya betul..terus..apa lagi ? ”

“Ya gitu, bingung aja jelasinnya ke orang-orang…”

“Kamu nggak ngerasa jadi bintang dan dipuja-puja gitu ? Jadi naik derajatnya? ”

“Nggak Mas..malah bingung mau jawab apa. Nggak pernah ada di posisi ini soalnya, sepi dan biasa aja hidupku dari dulu Mas..”

“Bagusssss…”

“Kok bagus ? ”, tanya Bayu.

“Bagus lah kalo kamu konsennya ke dirimu sendiri gimana cara jawabnya. Biar aja orang lain mau anggap kamu apa, jangan dipikirin dan jangan dinikmati. Nggak ada enaknya kok Bay itu nanti, percaya deh. Makin kamu nikmati, makin orang-orang sekitar kamu bergantung ke diri kamu nanti kalo ada apa-apa..minta tolongnya ke kamu nanti itu kalo ada apa-apa…”

“Gitu ya Mas ? ”

“Iya, biar aja mereka dengan pikirannya. Kamu nggak punya kewajiban kok buat menjelaskan yang sebenarnya. Tapi pikiranmu yang fokus untuk menjelaskan itu udah bener arahnya, tapi pada dasarnya, nggak perlu dijelaskan juga kok. ”

“Hmmmmm..”, Bayu mencoba meresapi dan mencari arti dari perkataan Sakti.

“Ada lagi Mas…”, Bayu menambahkan.

“Apa Bay ?, tanya Sakti.

“Ada anaknya Pak Burhan, Boss ku di kantor, sakit dari hari Jum’at kemarin. Trus baru dengar kabar tadi pagi kalau dia diopname di Rumah Sakit. ”, tambah Bayu.

“Terus…? ”

“Kasihan Mas, masih umur 6 tahun, namanya Astrid. Kayaknya berat deh sakitnya, ku pengen bantu deh..”, ujar Bayu.

“Nah pas tuh, kalo udah ada keinginan gitu, go ahead Bay..lakukan aja, pasti saya support kalo yang itu. ”

“Gimana tapi caranya Mas ? ”

“Ajak Sabrina aja Bay, urusan dia itu, keahlian dia kan di situ. Sekalian buat latihan dia dan Dom. Biar aja, sekalian kita lihat, solusi dari kita udah bisa berjalan belum. Ya kan ? ”

“Bener juga ya Mas, sama Sabrina ya ? ”

“Iya, ajak aja Sabrina. Ijin dulu ke Mas Ari & Mbak Alda, tapi terangkan maksudn dan tujuannya ke sana itu apa..”

“Ke Ayahnya Astrid, Pak Burhan ? Ku perlu bilang nggak Mas ? Mengenai kemampuannya Sabrina..? ”, tanya Bayu.

“Nggak perlu Bay, bukan urusan dia itu. Urusan kamu melaksanakan niat kamu yang mau bantu aja. Nggak semua orang perlu diterangkan semua hal kok Bay. ”

“Oke…oke..mengerti Mas. ”

“Nah, kamu bilang dulu ke Mas Ari. Nanti kalo Mas Ari ada pertanyaan atau ada keraguan, pasti bakalan nelp saya. ”

“Siap Mas..terima kasih ya..”

“Tapi jangan lupa ya Bay, biar powernya Sabrina bisa jalan, dia perlu bikin koneksi sama anaknya Boss kamu. Harus kenal dulu dan harus ngobrol dulu. ”

“Siap Mas..diingat pesannya yang ini. ”

“Oke Bay..lanjut sana, ke kantor dulu. Saya juga masih mau beres-beres warung ini. ”

“Pamit ya Mas..eh iya, ada satu lagi sih sebenernya..”

“Apa Bay..hahahaha…dipirit2 nih, satu lagi apa dua lagi nih ?”

“Nggak Mas, cuma satu lagi yg ini..beneran cuma satu..”

“Apa tuh ?”

“Mbak Sarah tadi pagi berterima kasih, tapi sambil pegang tangan…”

“Hahhahahahaha haduuuhhh Bay…kan udah saya bilaaaaaaaang..itu bakal kejadian. Awas ya, jangan dimainin ya, sewajarnya aja respondnya..”

“Siap Mas…hahahahhaa..”, kata Bayu sambil tertawa dan berjalan menjauh dari Mas Sakti, meneruskan perjalanannya ke kantor.


Sore hari nya, sepulang kantor, Bayupun berangkat ke rumah Sabrina. Setelah meminta ijin dari Mas Ari melalui telephone, Bayu mendapat persetujuan dari Papa nya Sabrina untuk mengajak anaknya menengok orang sakit. Yang membuat Bayu heran adalah tanggapan dari Mas Ari, yang benar-benar terbuka mengenai ide itu. Karena dalam pikiran Bayu, yang namanya anak tunggal, itu pasti diproteksi dan dijaga ketat, tapi Mas Ari dan Mbak Alda kelihatannya cukup terbuka pemikirannya dalam hal ini. Sehingga menerima ide Bayu dan mendukungnya.

Malah Mas Ari menyediakan mobil dan drivernya, untuk mengantar Bayu dan Sabrina ke Rumah Sakit. Bayu pun mengucap syukur dalam hati, dia nggak perlu bersusah payah memikirkan perjalanan ke Rumah Sakit dan pulangnya.

Di dalam perjalanan, Bayu dan Sabrina ngobrol banyak, terutama Sabrina yang dengan bersemangat bercerita tentang kegiatannya sehari-hari bersama Dom. Sabrina bercerita mulai dari bangun pagi, main sama Dom, kasih makan, main lagi, kadang main kejar-kejaran, kadang main petak umpet. Dia bercerita kebahagiaannya bersama dengan Dom, bikin yang mendengarnya ikut merasakan perasaan itu.

Dalam hati, Bayu pun berkata, “Seandainya anak ini nggak punya kemampuan menyerap emosi negatif pun, ceria dan cerita nya sudah bisa bikin orang lupa akan kesedihannya kok. Eh apa ini termasuk bagian dari kemampuannya Sabrina ya ? Makanya dia berkarakter seperti ini. ”

Setelah tiba di Rumah Sakit, mereka berdua berjalan menuju kamar perawatan Astrid, anaknya Pak Burhan. Sesampainya di depan kamar perawatan Astrid, Bayu pun mengetuk pintu perlahan, dan membukanya. Di dalamnya ada Pak Burhan, istri nya dan Astrid, anak perempuannya yang sedang terbaring lemah di ranjang, dengan infus menempel di tangan kanannya.

“Eh Bayu, silahkan masuk Bay..”, Pak Burhan segera bangkit dari tempat duduknya ketika melhat Bayu.

“Malam Pak..Ibu..”, Bayu menganggukkan kepala sambil bersalaman dengan Pak Burhan dan Bu LInda istrinya.

“Ma, ini Bayu..pegawai di kantor. ”, kata Pak Burhan sambil memperkenalkan Bayu. “Eh ini siapa anak cantik..? ”.

“Aku Sabrina…”, kata Sabrina perlahan sambil mengulurkan tangannya kepada Pak Burhan.

“Halo Sabrina..cantik sekali ”, Bu Linda segera meraih tangan Sabrina dan mengajaknya untuk duduk bersama.

“Ini keponakan saya Pak, Sabrina namanya. Sengaja saya ajak ke sini, barangkali bisa kasih semangat ke Astrid buat sembuh. ”

“Oooh gitu toh…kenalan dulu dong kalo gitu sama Astrid..”, Kata Bu Linda. “Astrid, ini ada teman baru, keponakannya temannya Papa..namanya Sabrina. Kenalan dulu yuk sayang..”

Astrid terbaring lemah sambil mengulurkan tangan kanannya yang ada infusnya, “Hai..aku Astrid”, ujarnya lemah.

“Hai Astrid, aku Sabrina..”, Sabrina menyambut uluran tangan Astrid sambil tersenyum. “Kamu sakit apa.. ? ”

Sabrina langsung berdiri di sebelah tempat duduk Astrid dan mengajaknya untuk berbincang-bincang, ditemani oleh Mamanya Astrid, Ibu Linda. Sementara Pak Burhan mengajak Bayu berbincang-bincang.

“Siapa Bay ? ”, tanya Pak Burhan.

“Keponakan Pak, dia pengen ikut. Pengen lihat anaknya Pak Burhan yang sakit katanya. ”

“Tapi gak apa-apa ? Takutnya karena anak kecil nanti malah ketularan Bay. ”

“Nggak Pak..keponakan saya ini kuat kok. Aman Pak..nggak masalah..dia yang pengen kok Pak, begitu saya cerita kalo mau jenguk anak Boss saya, dia yang mau ikut. ”, jelas Bayu.

“Gak apa-apa, Sabrina kan bukan anak sembarangan, dan di rumah masih ada Dom kalau nanti terjadi apa-apa..”, pikir Bayu.

“Oooh ya sudah kalau tidak apa-apa, saya cuma khawatir kalau nanti keponakanmu ketularan. ”

“Nggak Pak..aman kok itu, udah minum vitamin tadi dan lagi bugar kok badannya.”, Bayu mencoba meredakan kekhawatiran Pak Burhan.

“Tapi di bawah tadi aman Bay dari Security ? Takutnya di Rumah Sakit ini kan anak kecil dilarang jenguk. ”

“Aman Pak..saya gendong terus tadi, dan mencoba untuk ngumpet dari Security..hehehe..”

“Kamu bisa aja Bay. Khawatir soalnya saya..”

“Aman kok Pak, saya setuju untuk Sabrina ikut, biar bisa kasih semangat juga ke Astrid. Khawatirnya kalau saya aja yang besuk, nanti ngobrolnya sama Bapak aja, nggak bisa kasih semangat apa-apa ke Astridnya. Kalau ada Sabrina yang ikut, kan dia yang bisa kasih semangat buat Astrid biar cepet sembuh, karena relate sama anak seumurannya. ”

“Iya juga sih Bay..”

“Tapi gimana kondisi nya Astrid Pak ? Apa kata dokter ? ”

“Semacam virus di pencernaan katanya Bay. Jadi ya namanya virus, kita nggak bisa ngapa-ngapain, cuma bisa melihat saja dan menjaga kondisi Astrid supaya nggak drop.”

“Tapi udah baikan kondisinya Astrid Pak ? ”

“Kemarin subuh memburuk Bay pas di rumah, jadi kami bawa ke Rumah Sakit. Baru tadi pagi subuh kami masuk ke sini, karena di rumah sama sekali nggak bisa mauk makanan. Masuk makanan, keluar lagi, masuk terus keluar lagi. Kasihan Astrid. ”

“Memang paling benar sih Pak, di Rumah Sakit. Jadi perawatannya dan pengawasannya bisa lebih intensif lagi.”

“Tapi dari tadi pagi masih lemes banget Astidnya, saya masih khawatir. ”

“Sudah ada dokter yang periksa kan Pak ? Sudah ada hasilnya ? ”

“Sudah sih Bay, itu tadi, ada virus di pencernaannya, saya nggak tahu darimana virusnya. Tapi saya curiga dari makanan deh..”

Obrolan Bayu dan Pak Burhan terhenti, mendengar suara tertawa anak-anak yang cukup keras. Seketika keduanya menengok ke arah ranjang Rumah Sakit. Tampak Astrid sudah dalam posisi duduk, sementara Sabrina sudah duduk di sebelah nya. Keduanya tertawa-tawa melihat handphone bersama-sama.

Seketika raut wajah Pak Burhan berubah drastis, menjadi ekspresi orang yang tidak percaya akan apa yang dilihat di hadapannya.

Astrid yang tadi masih lemah terbaring, sekarang sudah bisa duduk dan tertawa-tawa bersama Sabrina. Di kepala Pak Burhan, ini adalah sebuah keajaiban, karena terlalu cepat dan terlalu instant. Dia pun kemudian berpaling kepada istrinya dan bertanya singkat, “Ma…? ”

“Nggak tahu, Mama juga nggak tahu. Daritadi Astrid cuma ngobrol2 aja sama Sabrina, terus pinjem handphone Mama dan nonton di situ. Tiba-tiba aja mereka bisa cepat akrab gini, dan Astrid langsung bisa duduk dan ketawa-ketawa gini.”, ujar Bu Linda menjelaskan.

Pak Burhan masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya, tapi segera dikagetkan dengan pertanyaan anaknya.

“Pah..nanti kalau aku udah sembuh dan boleh pulang, Sabrina boleh main ya ke rumah ya Pah ? ”, tanya Astrid.

“Eh..boleh dong sayang. Boleh. Tapi kamu sembuh dulu, jadi boleh pulang sama dokternya..ya ? ”, kata Pak Burhan menjawab pertanyaan anaknya.

“Iya, Sabrina nanti main ya ke rumah Astrid ya ? ”, Bu Linda menimpali anaknya.

“Boleh Tante, mau kok. Sabrina mau kok main sama Astrid. ”, kata Sabrina sambil melihat Astrid dan tertawa-tawa berdua.

“Iya, kita udah jadi teman akrab nih Ma sekarang ”, Astrid memberitahu ibunya.

“Iya Tante, Sabrina dan Astrid udah akrab sekarang. Astrid udah sembuh kok Tante, ini udah bisa ketawa-ketawa nih, kemarin cuma pura-pura sakit aja katanya. ”, ucap Sabrina sambil tertawa-tawa bersama Astrid.

Pak Burhan mengantar Bayu dan Sabrina sampai ke pintu depan rumah sakit, segera setelah mereka semua berpamitan dengan Astrid dan Bu Linda. Astrid sudah kelihatan segar dan dengan gembira melambaikan tangan ketika mereka berpamitan, tidak lupa menitipkan pesan untuk “jangan lupa sama janjinya ya Sabrina, nanti main ke rumah Astrid ya..”

Sesampainya di depan pintu Rumah Sakit, tidak lama sebuah mobil pun datang menjemput mereka. Sabrina segera pamit kepada Pak Burhan sambil salim, “Sabrina pulang ya Om, semoga Astrid boleh cepat pulang. ”

“Makasih banyak ya Sabrina, udah mau nengokkin Astrid. Makasih banyak ya udah datang. ”, jawab Pak Burhan sambil memegang kepala Sabrina.

“Sabrina yang makasih kok Om, jadi punya temen baru deh. ”, nggak lama Sabrina masuk ke dalam mobil, dan Bayu membantu menutup pintunya.

“Bay, makasih banyak ya…”, Pak Burhan menyalami Bayu.

“Siap Pak..sama-sama..senang sekali bisa berkunjung dan kenal dengan keluarga Pak. ”, jawab Bayu.

“Ada yang aneh Bay. ”

“Apa tuh Pak ? ”

“Ah gak apa-apa Bay, tapi aneh aja, Astrid bisa langsung segar gitu. ”

“Syukur lah Pak, mungkin pas aja barangkali timingnya dengan kedatangan saya dan Sabrina ke sini. ”

“Iya Bay, makasih banyak ya..nanti kita lanjut lagi ngobrolnya di kantor. ”

“Baik Pak, selamat istirahat. ”

See you next Chapter…

Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar