Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
WPM [SAGA] wpm-saga cerita gaib kisah klenik makhluk-halus manusia-gaib misteri mistik novel novella rumor saga snu spiritual supernatural supranatural waroeng-podjok-mangkoes wpm

BOOK 1, Chapter #8: AKHIR SESUATU ADALAH AWAL YANG BARU

Bayu membuka mata perlahan, sinar matahari sudah garang masuk ke jendela kamarnya, tanda bahwa hari sudah cukup siang. Biasanya ketika Bayu bangun pagi, sina...

lovelie-light 23 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel BOOK 1, Chapter #8: AKHIR SESUATU ADALAH AWAL YANG BARU

Bayu membuka mata perlahan, sinar matahari sudah garang masuk ke jendela kamarnya, tanda bahwa hari sudah cukup siang. Biasanya ketika Bayu bangun pagi, sinar matahari belum sampai menyinari dan masuk ke dalam kamarnya, karena terhalang rumah bertingkat di depan kost.

Perlahan kesadarannya semakin bertambah, dan sinar matahari yang sudah cukup terik membuat dirinya lebih cepat terbangun. Meskipun merasa sudah tidur dalam jangka waktu lama, tapi badannya masih terasa penat dan kaku untuk digerakkan. Rasa kelelahan belum hilang sepenuhnya dari tubuhnya.

Bayu perlahan berdiri dan berjalan keluar kamar. Seperti biasa, suasana weekend terasa sekali di kost nya, dengan banyaknya penghuni yang masih ada di kost karena libur bekerja.

Dengan perlahan dan kaku, Bayu berjalan menuju ke dapur dan mulai menyeduh kopi.

Tidak lama Bayu duduk sendirian di meja dapur, dengan mug hitam miliknya yang sudah dipenuhi kopi hitam yang berasap. Aroma yang masuk ke hidung dan rasa kopi yang terasa di lidah, segera membuat Bayu menjadi lebih segar. Dengan perlahan kesadarannya mulai kembali, dan otomatis ingatannya memutar memory kejadian di gedung milik Pak Drajat tadi malam. Baru saja Bayu memutar otak untuk mengembalikan memory, tidak terasa perutnya berbunyi keroncongan. Lapar tiba-tiba terasa dengan sangat, yang membuat Bayu enggan untuk melanjutkan pikiran dan ingatannya.

“Hai Bayu..baru bangun kah ? Tumben siang banget ”, Bayu mendengar suara yang tidak asing lagi. Mbak Sarah sudah berdiri bersandar di kusen pintu dapur sambil memegang kotak makanan.

“Haduuuh..jangan sekarang dong ketemu Mbak Sarahnya..boleh nanti aja nggak siangan dikit..lagi nggak bisa mikir nih..”, Bayu memanjaatkan pengharapan dalam hatinya, meskipun dia tahu kalau sudah tidak mungkin lagi untuk menghindari Mbak Sarah.

“Hai Mbak, iya nih…penat sekali badanku..”, ucap Bayu singkat sambil memegang badannya.

Nggak lama Mbak Sarah mengambil tempat duduk di seberang Bayu, dan menyodorkan kotak makanan yang tadi dibawanya.

“Nih..Bay.udah makan belum ? ”, Mbak Sarah membuka kotak makanannya, dan berisi roti tawar isi meses coklat.

Melihat itu, perut Bayu langsung berbunyi dan memberi isyarat kalau harus diisi.

Bayu pun tertegun sambil melihat Mbak Sarah dengan pandangan bersalah.

“Hahahaha…ambil aja Bay, nggak usah dijawab. Udah dijawab sama perutmu..”, Mbak Sarah tertawa pelan sambil menyodorkan kotak makanannya kepada Bayu.

Dengan lahap Bayu pun menyantap roti tawar isi meises coklat itu di hadapannya. Satu tangkap roti tawar, sudah dipotong 4 bagian oleh Mbak Sarah, tapi kotak makanannya cukup tinggi, sehingga Bayu lihat sekilas ada 2 tingkat roti tawar di dalamnya.

“Makasih ya Mbak Sarah, penyelamat lapar ini. ”, ujar Bayu di tengah-tengah kunyahannya.

“Pelan-pelan Bay, kayak abis kerja keras kamu..lapar banget gitu..”, Mbak Sarah memperhatikan Bayu makan sambil melemparkan senyum kecil.

“Habis Mbak energiku kayaknya, jadi lapar banget ini..”, Bayu terus mengambil potongan roti berikutnya dan berikutnya, tanpa berhenti.

“Habis ngapain sih sampe abis gitu energinya…pacaran ? , tanya Mbak Sarah menyelidiki.

“Hmmmmm bisa banget nanya nya ”, pikir Bayu.

“Nggak Mbak aku belum pernah pacaran..”, sambung Bayu.

“Hahhh ? Masak ? Belum pernah pacaran sampe sekarang Bay ? Dari kecil ? ”

“Iya maksudnya..belum pernah pacaran sama pegawai Bank Mbak..”, Bayu tersenyum sambil menjawab.

Mbak Sarah agak tertegun mendengar hal itu, tapi warna merah merona segera nampak di pipinya, teriring senyum kecil.

Tiba-tiba mata Bayu melihat ke arah pundak dari Mbak Sarah, nampak muncul perlahan ada tangan yang muncul dari punggung Mbak Sarah, dengan kuku-kuku yang panjang dan tajam, bergerak perlahan dari pundak menuju leher depannya. Bayu yang terkaget-kaget melihat hal itu segera menarik diri dari tempat dia duduk, segera berdiri dan berjalan ke punggung Mbak Sarah.

“Hahhh ??? Tidak ada apa-apa..apa itu barusan yang kulihat ? ”, pikir Bayu.

Mbak Sarah jadi ikut-ikutan kaget melihat tingkah Bayu yang aneh.

“Eh kenapa Bay ? Ada apa ? ”, tanya Mbak Sarah dengan raut muka kebingungan dan sedikit takut.

“Eh nggak apa-apa Mbak, kok kayak lihat sesuatu tadi di belakang Mbak Sarah..”, ujar Bayu sambil kembali ke tempat duduknya.

“Apa Bay ? Ada apa di belakangku ? ”, tanya Mbak Sarah, masih dengan sikap ketakutannya yang berlebih.

“Bukan Mbak, kayak lihat tawon tadi terbang di belakang Mbak Sarah, tapi kayaknya bukan. ”, Bayu terpaksa berbohong, menghindari rasa ketakutan yang berlebihan dari Mbak Sarah.

“Bayu ah..nakut-nakutin deh..”, jawab Mbak Sarah sambil memukul tangan Bayu perlahan.

Bayu masih terdiam dan belum bisa bereaksi, karena pikirannya penuh dengan


Ketika tiba di Waroeng Podjok Mangkoes, hari sudah gelap, dan jalanan pun sudah sepi. Dengan bergegas, Bayu segera masuk ke dalam Waroeng dan memanggil Sakti.

“Mas Sakti, ini Bayu..”, kata Bayu perlahan.

Tidak lama kemudian, kepala Sakti muncul di balik etalase, sambil berkata, “Masuk Bay..biasa ya, lewat samping. ”

Bayu segera memasuki ruang belakang etalase, dan duduk di tempat duduknya sambil termenung. Di dalam pikirannya, ada terlalu banyak pertanyaan yang harus dicari jawabannya. Dan bingung mau memulai pembicaraan dari mana dengan Sakti.

“Gimana Bay ? Udah balik energinya ? Kok kamu kayak orang bingung gitu ? ”, tanya Sakti sambil duduk di seberang Bayu.

“Iya Mas, udah enakan..udah tidur lama..”, ujar Bayu singkat.

“Minum dulu Bay…tenang dulu..”, Sakti menyodorkan secangkir kopi yang sudah ada sejak tadi, tapi masih berasap panas. “Sudah saya siapkan kopinya daritadi..”

Bayu baru menyadari, bahwa sedari tadi sudah ada secangkir kopi panas di hadapannya, tapi enggan menanyakan mengapa Sakti sudah membuatkan kopi. Padahal dia baru saja datang ke Waroeng Podjok itu, baru saja duduk. Sudah terlalu banyak pertanyaan di dalam kepalanya mengenai banyak hal, dan rasanya tidak ada tempat untuk pertanyaan sereceh segelas kopi panas yang sudah siap tersedia.

Tidak lama, Bayu pun meminum kopi hitam itu dari cangkirnya. Segar rasanya dan lebih cool down sedikit pikirannya. Setelah itu, segera Bayu mengikuti Sakti yang menyalakan rokok.

“Huuuufffffhhhhhhh..”, Bayu menghembuskan asap rokok perlahan dari mulutnya. Merasa sedikit lebih santai dan kalem, ia segera memulai pembicaraan.

“Mas Sakti, jadi apa yang terjadi sebenarnya di tempatnya Pak Drajat Mas ? ”

“Kan kamu ada di sana Bay, menyaksikan juga kan ? ”, lanjut Sakti dengan tenang.

“Antara sadar dan nggak sadar sih Mas, plus ditambah..antara ngerti dan nggak ngerti juga..”, Bayu berkata dengan perlahan.

“Apa yang mau kamu tanyakan Bay ? ”

“Kemarin aku tiba-tiba seperti ada di dalam gua Mas, ada Mas Sakti, ada 2 pendekar perempuan itu, dan ada seekor harimau yang besar sekali.”

“Nah itu namanya dimensi transisi Bay. Jadi dimensi transisi itu adalah batas transisi antar dimensi, dimensi tempat manusia hidup dan dimensi para makhluk atau entitas astral dari dimensi mereka masing-masing. Singkatnya, itu tempat pertemuan alam yang satu dengan alam yang lain Bay. ”

“Tapi Mas…kok aku bisa ke sana ? ”

“Nah soal itu, kami juga kaget sama hal itu..”

“Kami…? Kami siapa maksudnya Mas ? ”

“Kami..yang ada di dimensi itu kemarin..”

“Kan ada Mas Sakti..trus ada pendekar perempuan berwibawa yang sudah dewasa itu, yang pegang pedang besar. Trus sama perempuan yang masih muda, seumuran aku, dan lebih ceria dan kekanak-kanakan itu Mas. O iya..satu lagi, sama harimau besar itu..”

“Nggak ada yang kamu kenal ya Bay ? ”

“Nggak Mas, semua baru pertama kali melihat..”

“Kalau yang pendekar wanita berpedang itu, wajar lah kalau kamu nggak kenal dia. Tapi yang perempuan yang masih muda ? Masak kamu nggak kenal Bay ? ”, tanya Mas Sakti dengan tersenyum.

“Nggak Mas…eh, seperti kenal sih, tapi baru pertama kali lihat. Maksud ku…meskipun baru pertama melihat dia, tapi seperti sudah kenal lama sih Mas. Tapi aku nggak inget itu siapa..”, balas Bayu.

“Coba Bay.. ke sana lagi..”

“Haaaaa ?? Sekarang Mas ? ”

“Iya lah, sekarang..yuk, saya temenin. Kita ke sana sekarang..biar kamu bisa kenal dengan mereka, sepertinya sih mereka lagi ada di sana..”

“Waduuuh…gimana caranya Mas ? ”, Bayu kebingungan mendengar ajakan Mas Sakti yang tidak masuk akal itu.

“Kemarin kamu gimana ke sana nya ? ”

“Nggak tahu Mas, tiba-tiba aja bisa berpindah ke dimensi itu.”

“Ya sudah, ingat-ingat aja dulu. Nanti kalau sudah ingat, menyusul ya kesana..” ujar Mas Sakti sambil mematikan rokoknya.

“Eh Mas…sebentar..”, Bayu berucap perlahan.

Tapi Mas Sakti sudah keburu ambil posisi duduk tegak, dengan memejamkan matanya dan bernapas dengan teratur.

Bayu ingat kembali memory di gedung nya Pak Drajat, seperti ini kondisi Sakti pada waktu itu. Tapi yang kali ini, raut mukanya lebih tenang dan tanpa ekspresi, beda dengan raut muka tegang ketika di sana kemarin.

Perlahan ingatan Bayu kembali lagi ke kejadian kemarin, pada saat dia melihat Sakti di sebelahnya memejamkan mata dengan sikap tangan saling memegang di bawah pusar. Ingatannya kembali ke instruksi Sakti, “Tenang saja Bay..dan bernapas..”

Bayu ingat kejadian itu, dan segera ia pun bernapas dengan teratur.

Perlahan mata Bayu mulai terasa berbayang, dan semakin gelap, sampai akhirnya terpejam dengan sendirinya. Semua terasa gelap, napas mulai terlupakan, suara-suara di sekitar pun mendadak menjadi senyap dan diam.


[Di Dimensi Transisi – Domain Tunggal Dewi]

Tampak suasana remang di pagi hari, dihadapan Bayu dan Sakti tampak sebuah bangunan dari kayu dengan desain kuno. Walaupun tampak asri tapi Bayu bisa menangkap kesan wingit dari lokasi ini. Sakti memberi isyarat agar Bayu mengikutinya.

Kali ini tempat yang mereka datangi berbeda dengan yang kemarin, bukan lagi sebuah goa yang gelap tapi sebuah tempat dimana terlihat seperti halaman depan sebuah rumah mewah. Sakti mengetuk pintu besar dari kayu kemudian membukanya tanpa menunggu ada sahutan dari dalam.

Mata Bayu terbelalak saat melihat kondisi di dalam rumah itu, sangat luas, dan berisi banyak perabotan aneh, juga terdapat banyak pintu-pintu dari kayu yang tinggi dengan warna cat yang berbeda-beda. Kondisi di dalam rumah ini tidak sebanding dengan besarnya bangunan kayu sederhana yang dilihatnya di luar tadi.

“Mas… i… ini dimana yaa… koq… koq… luas sekali, tadi kan…” belum juga Bayu selesai merkata-kata Sakti langsung memotong dengan menunjuk arah yang harus mereka tuju.

“Kita kesana Bay, ayo ikut aku.” Kata Sakti sambil jalan mendahului Bayu kearah sebuah pintu besar dari kayu berwarna hijau dan membukanya. Bayu mengikuti Sakti dan mempercepat langkahnya. Lalu Saktu mempersilakan Bayu masuk duluan melewati pintu itu.

Lagi-lagi Bayu di buat kaget dengan apa yang dialaminya, dia aru saja masuk lewat pintu yang ada di dalam rumah tapi sekarang dia dan Sakti ada di dalam hutan yang rimbun, terdengar suara air yang mengalir deras.

“Ikutin aku Bay, ati-ati dengan langkahmu, jangan sampai kamu nginjek buntut ular” sahut Sakti sambil terkekeh.

Bayu masih membisu dia masih bingung, namun menangkap perkataan Sakti dan berjalan hati-hati walau otaknya masih memproses apa yang dialaminya dan apa yang dilihatnya sampai akhirnya dia berhenti di samping Sakti yang juga menghentikan langkahnya tepat di samping sebuah genangan air beriak.

Di hadapan mereka terlihat sebuat air terjun tinggi yang cukup deras dan berasal dari kaki gunung yang berselimut kabut tidak jauh dari tempat keduanya berdiri, dan disekitar mereka tampak vegetasi nan indah dan asri. Tumbuhan bahkan hewan-hewan kecil yang sebenarnya tampak asing bagi Bayu.

“Ular warna-warni bertanduk?” Bayu memekik dalam hatinya, tapi kemudian pikirannya buyar saat Sakti memanggil satu nama.

“Tunggal Dewi…” Sakti memanggil nama yang asing bagi Bayu.

Tiba-tiba suara gemuruh terdengar, kemudian permukaan genangan air itu terlihat beriak perlahan lalu munculah wanita cantik berpakaian brokat putih dan celana kain dari batik dengan jubah beludru berwarna hijau lumut, wanita cantik itu memakai kacamata baca dengan desain vintage dan memegang sebuah buku tebal dengan sampulnya yang terlihat sangat tua. Sambil tersenyum, perlahan wanita itu berjalan mendekati Sakti dan Bayu yang berdiri di pinggir genangan.

Tunggal Dewi illustratted by: lovelie_light

Tunggal Dewi menutup buku yang dipegangnya dan seketika buku itu menghilang di atas telapak tangannya.

“Kamu disini Sakti… Bayu…” sama Tunggal Dewi, sementara Sakti yang disapa mengangguk dan Bayu tampak terbelalak speechless. Matanya tak lepas menatap Tunggal Dewi dari atas sampai bawah sampai atas lagi.

“Bay… nyebut Bay!” goda Sakti.

“Ini Tunggal Dewi Bay, kenalkan. Penguasa domain ini.” Sambung Sakti menerangkan, sementara Bayu masih dalam kondisi terkejoed dan melongo melihat Tunggal Dewi yang menurutnya adalah sosok wanita tercantik yang pernah dilihatnya.

“Bumi ke Bayu… check… check… istighfar Bay!” Lanjut Sakti sambil mengusap muka Bayu dengan telapak tangannya. Bayu langsung bergeming kaget dan istighfar.

“Astagfirullah, duh maaf Mas… maaf” ujar Bayu kikuk, wajahnya tampak memerah malu. Sakti terkekeh melihat kelakuan Bayu.

“Bayu… apa kabar, gimana kondisi kamu sudah enakan?” tanya Tunggal Dewi…

“Ehhhh… eung… anu…” Bayu terbata.

“Santai aja Bay, santai… tarik nafas dulu, baru jawab” ujar Sakti.

Tunggal Dewi tersenyum sambil perlahan menghampiri Bayu, kemudian menepuk pundak Bayu.

“Iya tenang aja Bay… ga usah gerogi!” lanjut Tunggal Dewi tersenyum. Menerima perlakuan manis gitu dari seorang wanita cantik membuat Bayu makin salah tingkah, kalo jantungnya bisa menjerit dan lompat dari rongga dada, pasti akan kedengaran jeritannya menggema sambil lompat-lompat di luar tubuh.

“Duh Gusti… ini makhluk apa, koq cantik banget…” dalam hati Bayu memuji, dan pikiran ini membuatnya semakin kikuk. Tunggal Dewi menepuk punggung Bayu dua kali, seolah tau kondisi Bayu yang kikuk dan sibuk dengan pikiran randomnya.

“Ya sudah ayo kita ke tempat Maheswari” ujar Tunggal Dewi sambil menggandeng tangan Bayu. Bayu yang salting perlahan berjalan mengikuti Tunggal Dewi, sementara Sakti mengikuti di belakang keduanya sambil menahan tawa.

Mereka melewati jalan setapak yang sebelumnya dilewati, menuju pintu kayu yang tinggi yang menempel pada sebuah batu besar. Saat pintu itu dibuka, mereka kembali terhubung pada rumah tua yang sebelumnya mereka datangi.

“Maheswari lagi di mana?” tanya Sakti.

“Dia di Utara…” jawab Tunggal Dewi singkat. Seolah sudah tau, Sakti berjalan mendahului Tunggal Dewi dan Bayu, lalu berhenti di sebuah pintu besar lain dan membukanya. Seketika terdengar riuh suara ombak dan burung pantai, bahkan tampak angin bertiup menerpa tubuh Sakti yang masih berdiri di depan pintu dan melihat ke arah Bayu dan Tunggal Dewi, tampak rambut sakti tersapu angin lembut yang membawa aroma asin yang datang dari arah pintu itu.

“Ayo Bay cepet sini, masih kaku aja” goda Sakti lagi. Bayu kemudian mempercepat langkahnya diikuti Tunggal Dewi yang masih menggandeng lengan Bayu.

Sekali lagi wajah Bayu tercengang, matanya terbelalak, bukan hanya suara ombak dan burung pantai sekarang mereka bertiga benar-benar ada di bibir pantai.

Tampak beberapa pulau melayang dan saling bertaut satu sama lain, di atas laut. Dan di salah satu pulau yang melayang itu tampak bangunan megah seperti istana, dan di sekelilingnya tampak hewan-hewan aneh berterbangan. Bayu yang terkejut tidak bisa berkata-kata, dia hanya bisa nurut dan mengikuti langkah Sakti dan Tunggal Dewi yang akan membawanya entah kemana.

Sakti, Tunggal Dewi dan Bayu berjalan beriringan menyusuri pesisir pantai, angin sepoi-sepoi menerpa kulit membuat Bayu berfikir, ini nyata, karena jika hanya mimpi tidak mungkin terasa desiran angin yang menerpa permukaan kulitnya. Saat masih memikirkan kemungkinan kondisi yang dialaminya ini nyata atau tidak tiba-tiba seorang wanita muda dengan cepat berlari menghampiri Bayu dan merangkulnya.

Lagi-lagi Bayu panik, tak biasa diperlakukan seperti itu oleh wanita cantik. Ekspresi wajahnya kaget dan tingkah nya masih kikuk ketika sadar di samping kirinya Tunggal Dewi merangkul tangannya dan di samping kirinya ada wanita asing yang tidak kalah cantiknya.

“Hai Kak Tidi..”, wanita muda yang tingkahnya kekanakan namun luwes itu pun menyapa Tunggal Dewi.

“Hai…. Bayuu….” sapa Maheswari dengan lebih antusias. Sementara Bayu yang disapa bingung dan melihat kearah Sakti, berusaha mencari jawaban.

“Kenalin Bay… itu Maheswari” ujar Sakti.

“Kamu itu udah ketemu kok sama mereka berdua, kemarin malam di tempat Pak Drajat. Masa lupa sih Bay?” kata Sakti lagi.

Bayu menatap Sakti dengan tatapan penuh tanya, kemudian secara bergantian melihat ke arah Tunggal Dewi dan Maheswari. Memorinya kembali ke kejadian semalam, saat mereka membantu Pak Drajat untuk membersihkan lokasi konveksinya yang sering mengalami gangguan.

Lalu Bayu ingat momen yang terjadi saat dia berpindah ke dimensi lain, dia melihat dua orang wanita bersama Sakti, tapi penampilannya tidak seperti ini, kedua wanita itu menggunakan baju zirah.

“Jadi yang semalam itu…” Bayu mengarahkan telunjukkan perlahan pada Tunggal Dewi dan Maheswari, dan langsung di potong bersamaan oleh Tunggal Dewi dan Maheswari.

“Iya Bay… bener… kita yang semalem bantu kalian menolong Pak Drajat” kata Tunggal Dewi dan Maheswari sinkron.

“Jadi Bay, ini masih domain kekuasaan Tunggal Dewi, dan Maheswari akan tinggal disini selama dia ada di Bumi, dan kamu harus tau kalo Maheswari ini Extraterrestrial, bukan berasal dari Bumi” lanjut Sakti…

“Apa Mas? Extraterre… apa?” tanya Bayu.

“Extraterrestrial Bay, artinya dia bukan dari Bumi, tapi makhluk dari luar Bumi” terang Sakti lagi.

“Alien maksudnya?” Tanya Bayu kaget…

“No no no… Extraterrestrial!” sahut Maheswari tegas tapi dengan senyuman ramah tersungging di bibirnya.

“Makhluk di alam semesta ini sangat banyak jenisnya dan asal usulnya Bayu. Sementara manusia hanya diberikan pemahaman dan pengetahuan yang terbatas. Hal ini untuk menghindari kebingungan dan ketakutan” terang Tunggal Dewi.

“Bener Bay, kita di bumi ini bukan cuma hidup berdampingan dengan bangsa Jin yang ada di dimensi gaib. Harus ingat juga kalau Malaikat itu gaib, Iblis juga gaib, bahkan yang ada di dalam ekosistem semesta seperti Danyang, Dewa, Dewi, Roh, Jiwa, Arwah itu semua gaib.” tambah Sakti.

Bayu semakin bingung, tampak ekspresinya tertegun seolah sedang mencerna semua informasi yang baru didapatnya. Ini benar-benar hal baru untuk Bayu. Fenomena berpindah dimensi yang baru dialaminya semalam, kemudian tentang domain transisi, sekarang tentang makhluk lain yang hidup berdampingan dengan manusia selain bangsa Jin. Semuanya masih mengejutkan sekaligus membingungkan bagi Bayu.

“Tenang Bay, kamu bisa belajar pelan-pelan kok!” ujar Sakti.

Sakti, Tunggal Dewi dan Maheswari pun mengajak Bayu untuk duduk di sebuah pondok di tepi pantai di domain itu. Mereka membiarkan Bayu sejenak merasakan ketenangan sambil melihat desir ombak pantai yang berkejaran perlahan, disertai semilir angin yang lembut terasa menghembus di wajah. Sejenak keheningan menyelimuti keempat insan itu, semua dengan pandangan yang sama, mengarah ke pantai, seakan-akan tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Perlahan, Bayu yang duduk di antara teman-teman barunya pun bisa menjadi lebih tenang pikirannya, ditandai dengan mulai hilang ketegangan di raut mukanya.

“Tapi aku sama sekali nggak menyangka loh akan secepat itu. “, Tunggal Dewi berbicara sendiri, tetap sambil menatap pantai, seakan tidak ada diantara keempat insan itu yang ingin dia ajak bicara.

“Apa yang secepat itu Tunggal Dewi ? , tanya Sakti.

“Aku nggak menyangka Bayu bisa secepat itu masuk ke Dimensi Transisi ini. Ku pikir akan terjadi di waktu yang masih lama lagi. “, ucap Tunggal Dewi sambil tersenyum.

“Samaaaaa..aku juga kaget pas pertama lihat dia KakTidi… eh, kok Bayu bisa ke sini ? “, Maheswari menimpali sambil tersenyum. Kaki Maheswari naik ke atas tempat duduk dan gestur memeluk lututnya adalah sebuah gambaran tingkah laku dinamis dari dirinya.

“Oowwh..kalian membicarakan waktu di tempat Pak Drajat ya ?”, sahut Sakti.

“Iya, Mas Sakti, kaget loh lihat dia tiba-tiba ada di situ..”, Maheswari menimpali, sementara Tunggal Dewi hanya menoleh dan menganggukkan kepalanya.

Bayu mendengar itu dengan mulut terkunci, belum berani untuk berkomentar atau berkata apa-apa mengenai hal itu. Sementara pikirannya melayang kembali ke kejadian kemarin, memutar memory tentang pertama kali ia masuk ke dalam Dimensi Transisi dan pertemuan pertama mereka berempat. Ada sedikit rasa bunggah di dalam dadanya ketika mengingat hal itu, sebuah rasa anugrah besar yang ia rasakan menghimpit dadanya.

“Seperti ku bilang dahulu, Bayu itu cuma butuh didorong dan dimotivasi. Dia sebenarnya sudah ada waktunya dan nggak perlu banyak belajar lagi, hanya tinggal sedikit saja dikasih motivasi. “, ujar Sakti sambil menepuk pundak Bayu.

Bayu hanya menoleh ke Sakti, dan tersenyum kecil. Sementara matanya masih memancarkan berbagai pertanyaan, tapi sepertinya sudah bisa menerima kondisi dan kenyataan bahwa dia sekarang sedang bersama keempat insan ini dan di tempat ini.

“Tapi kereeeeen ah Bayu…inget nggak Bay, waktu kamu ditarik-tarik sama makhluk-makhluk yang menghuni di tempat Pak Drajat itu ?”, Maheswari bertanya.

Bayu menoleh kepada Maheswari sambil mengangguk perlahan. Masih segar di ingatannya kejadian itu.

“Itu kan artinya makhluk-makhluk itu juga melihat dan merasakan kehadiranmu di dimensi itu..makanya kamu ditarik-tarik terus. “, Maheswari menjelaskan sambil mengacungkan jempol kepada Bayu.

“Ya berarti sudah waktunya bagi Bayu..”, Tunggal Dewi mengeluarkan sebuah kalimat menggantung sambil menatap Sakti dengan senyum penuh maksud.

“Iya..iya..Bayu sudah waktunya kok, ku mengerti soal itu. Siap nggak siap, memang sudah waktunya dia. “, Sakti mengangguk-angguk pertanda mengerti maksud dari Tunggal Dewi.

“Bay..”, panggil Sakti.

“Ya Mas ? “, Bayu menoleh kepada Sakti.

“Gimana menurut kamu ? Apa rasanya bisa ada di Dimensi ini Bay ? “, Sakti bertanya. Sementara Tunggal Dewi dan Maheswari bersamaan membenahi sikap duduk mereka, menjadi sikap yang lebih serius.

“Yaaaaa..gini Mas..masih bingung..harus mulai dari mana untuk bisa ngerti sama semua hal ini..”, jawab Bayu terbata-bata, sambil melihat teman-teman barunya satu per satu. “Tapi yang jelas, ketemu dengan Tunggal Dewi…dan….”

“Kak Tidi..”, sela Maheswari dengan tertawa kecil nya.

“Hehehe..aku belum sekenal itu dengan Tunggal Dewi, masih terkesima dengan perkenalan ini yang mendadak dan mengejutkan. “, jelas Bayu.

Maheswari semakin tertawa mendengar hal itu.

“Tapi yang jelas, pertemuan dengan Mas Sakti, membawa saya ke banyak hal baru..yang utama adalah ini, pertemuan dengan Tunggal Dewi dan Maheswari, yang sampai sekarang masih menjadi sesuatu yang sulit dipercayai Mas..”, lanjut Bayu.

“Jadi Bay..begini..”, Sakti mengambil sikap lebih serius lagi, untuk bercerita lebih panjang.

“Pertama kali saya bertemu dengan kamu, saya sudah bisa melihat dari pola energimu, bahwa kamu sebenarnya bisa ada di titik ini. Hanya butuh sedikit “dorongan” dan motivasi saja untuk itu. Saya lihat pemikiran kamu cukup terbuka dan sikap kamu yang lebih mementingkan orang lain dibandingkan dirimu, ini yang membuat saya tertarik untuk memberi kamu sedikit dorongan itu”, Sakti menjelaskan.

“Mas Sakti udah bisa lihat ya ? Ooo iya, saya lupa, Mas Sakti bisa melihat energi. “ , Bayu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Lalu yang dimaksud dorongan itu apa Mas ? “

“Sejatinya, dorongan itu seharusnya berupa tambahan energi Bay. Butuh energi yang besar untuk bisa beralih ke dimensi transisi ini, masuk dan menjelajahi domain-domain yang ada, tapi tubuh fisikmu masih ada di dimensi mu. “, Tunggal Dewi menimpali pembicaraan itu.

“Berarti sebenarnya energi saya belum cukup besar ya ? “, tanya Bayu sambil melihat kepada Tunggal Dewi.

“Belum Bay..”, Sakti menjawab. “Jujur saja energimu belum cukup besar sebenarnya buat hal ini. Buktinya, kamu pertama kali ke Dimensi Transisi ini, masih belum stabil kan ? Masih terasa bolak-balik ke dimensi manusia. “

“Lalu bagaimana aku bisa stabil seperti sekarang ini Mas ? Ini aku lama loh di dimensi ini..bisa ngobrol banyak dengan kalian.”, tanya Bayu.

“Energi itu bisa dinaikkan perlahan-lahan Bay, banyak cara dan metodenya. Bisa juga dinaikkan dengan secepat dan seinstant seperti membuat sebuah kopi instan. Tapi biasanya yang instant efeknya nggak akan bagus untuk tubuh manusianya. “ Sakti menjelaskan.

“Untuk dirimu, saya pakai cara sendiri untuk hal itu. Saya pakai keberuntungan dirimu..”, Sakti tertawa sedikit.

“Maksudnya gimana Mas Sakti ? “, tanya Bayu.

“Pertama kali Sakti bilang ini ke kami bertiga, jujur saja, aku pesimis banget sama hal ini “, Tunggal Dewi menimpali.

“Samaaaa Kak Tidii…aku juga percaya nggak percaya waktu itu..”, Maheswari menambahkan.

“Saya jelaskan ke mereka Bay, kalau saya akan menggunakan keberuntungan untuk hal itu. Karena keberuntungan bisa mengalahkan semua hal di dunia ini. Naik nya energi kamu, yang seharusnya melalui sebuah proses yang panjang, bisa terjadi dengan singkat dengan memiliki keberuntungan. “, Sakti menjelaskan.

“Keberuntungan itu bisa dipancing, tidak bisa didoakan, tidak bisa diusahakan, tapi bisa dipancing. Maksudnya, tanpa jaminan kalau hal itu akan berhasil, tapi tidak ada salahnya untuk dicoba. “

“Cara memancingnya bagaimana Mas ? “, tanya Bayu.

“Dengan menolong orang lain. “, jawab Sakti dengan singkat.

Sakti pun bertanya kepada Bayu, “Kamu sadar nggak kalau selama ini saya selalu support kalau motivasi dirimu adalah untuk membantu orang lain ?”

“Eh iya…iya ya..?”, Bayu baru menyadari hal itu setelah Sakti mengatakannya.

“Membantu orang lain, sampai tuntas, sampai orangnya merasa terbantu, itu meningkatkan keberuntungan Bay. Mulai dari Sabrina, anaknya Mas Ari dan Mbak Alda…..”, Sakti menceritakan.

Mendengar hal itu Maheswari tertawa kecil.

“Lalu dengan Dom yang diantarkan Pak Tunggal. “, lanjut Sakti.

Kali ini Tunggal Dewi yang tersenyum mendengar hal itu.

“Lalu berlanjut ke Mbak Sarah, Astrid anaknya Pak Burhan dan terakhir Pak Drajat. Mereka semua merasa terbantu oleh keberadaanmu Bay, dan dengan sendirinya, ketika mereka merasakan hal itu, energi yang kamu keluarkan untuk mereka, dikembalikan lagi kepada dirimu lagi. Seringkali pengembaliannya dalam bentuk sebuah keberuntungan.”

“Dengan keberuntungan itu, energi kamu bisa lebih cepat lagi meningkatnya, dan akhirnya mencukupi untuk bisa sampai di Dimensi Transisi ini. “, Sakti menjelaskan dengan detail.

“Dan kamu bisa bertemuuuu dengan kamiii…yeaaaaaaay hebat Bayuuu..”, Maheswari berteriak kecil sambil bertepuk tangan.

Tunggal Dewi tersenyum melihat hal itu, sambil berkata, “Tinggal nanti kamu belajar pelan-pelan melihat dunia yang ini Bay, karena banyak yang berbeda dengan duniamu. Salah satunya mengenai penampilan misalnya. “

“Iya betul Bay, terutama soal penampilan. “ ucap Sakti. “Misalnya seperti, bagaimana pandangan kamu pertama kali ketika melihat Tunggal Dewi ? “

“Eh, pendekar..cantik..mempesona..misterius..”, Bayu berkata dengan terbata-bata menjawab pertanyaan Sakti.

“Sadar nggak kalau ini bukan pertama kalinya kamu bertemu dengan Tunggal Dewi ?”, tanya Sakti.

“Masaaak Mas ? Ini pertama kalinya loh..saya belum bertemu dan lihat sebelumnya. “, Bayu berkata.

“Tunggal Dewi ini adalah seorang insan dari dimensi ghaib ini Bay, tapi bisa berpindah ke dimensi manusia. Cuma, dia punya banyak bentuk fisik di dimensi manusia..dan kamu pernah bertemu dengan salah satu bentuk fisiknya di dimensi manusia. “

Bayu langsung teringat sebuah sosok, dan ingatan itu membuat mulutnya menganga sambil melihat Tunggal Dewi.

“Iya benar Bay, ini Pak Tunggal. Kenalan dulu sana..”, ujar Sakti sambil tertawa.

Melihat Bayu menatapnya dengan melongo dan mulut yang menganga, Tunggal Dewi tidak bisa menahan diri untuk tertawa terbahak-bahak. Bahkan Maheswari pun terpingkal-pingkal melihat raut muka Bayu itu sambil menggulingkan badannya.

Setelah selesai tertawa, Sakti pun melanjutkan, “Satu hal ya Bay, penampilan di sini bisa menipu, kamu harus selalu ingat tentang hal itu. “

Bayu masih melongo mendengar hal itu.

“Satu lagi dong Mas Sakti..akuuuu…akuuuuu..”, kata Maheswari sambil menyodorkan telapak tangannya kepada Bayu.

“O iya, satu lagi, kamu pernah bilang kalau kayak kenal dengan Maheswari kan Bay ? Tapi apa kamu kenal beneran sama dia ?”, tanya Sakti. “Kalo belum kenal beneran, coba kamu kenalan lagi deh..”

Bayu dengan raut muka bingung pun menyambut tangan Maheswari dengan penuh ragu.

Sambil menjabat tangan Bayu, Maheswari pun berkata pelan, “Halo Om Bayu, Om lupa ya sama aku ? Sabrina yang pernah Om tolongin. “

Bayu semakin terbingung bingung dengan hal itu.

Sementara ketiga temannya masih tertawa-tawa melihat kebingungan Bayu.

Maheswari illustrated by lovelie_light

—- E N D ——

Sepulangnya dari Waroeng Podjok Maskoen, Bayu berjalan sendiri sambil merenungi kejadian-kejadian yang dia alami semenjak dia kenal dengan Mas Sakti. Ada rasa bahagia, senang, tapi tetap dengan kebingungan dan keheranan. Ada sisa banyak pertanyaan dalam dirinya, yang masih ingin ia tanyakan kepada Sakti.

Tapi Sakti menyuruhnya untuk pulang dulu dan beristirahat, “Biar malam ini kamu resapi dulu semua yang kamu alami ini Bay, besok kita masih bisa ngobrol lagi. “, begitu kata Mas Sakti tadi .

Ada pertanyaan kenapa dia yang harus mengalami hal ini ? Adakah maksud lain di belakang kejadian-kejadian ini ? Pasti ke depan nya akan semakin banyak hal yang masih perlu dia pelajari lagi.

“Ooooiiiy…”, tiba-tiba terdengar suara yang memanggil dari arah belakang Bayu.

Bayu pun menengok ke belakang dan mencari asal suara itu. Terlihat seorang laki-laki muda dengan wajah yang ganteng, dandanan yang rapi berupa kemeja lengan panjang yang rapi dan licin disetrika, celana bahan yang masih lurus. Tapi semua terlihat proporsional di diri laki-laki itu.

Seketika Bayu pun menghentikan langkahnya.

“Ooooiiiyy..iya kamu…”, ujar laki-laki itu dengan kalem.

Bayu melihat sekelilingnya, jalanan sudah sepi karena sudah lewat tengah malam. Tidak ada siapapun di jalanan itu, sehingga tidak ada maksud lain dari panggilan laki-laki ganteng itu, selain ke dirinya. Segera Bayu pun berbalik arah, berjalan menuju ke arah laki-laki ganteng tersebut.

“Ya ? “, jawab Bayu setelah mereka berhadapan.

Laki-laki itu menatap Bayu perlahan dari ujung bawah sampai ke atas dengan tajam. Setelah itu melakukan gerakan santai dengan mengambil rokok dan menyalakannya perlahan.

“Kamu dan teman-teman kamu, nggak usah banyak mencampuri urusan saya ya ? “, ujar laki-laki itu dengan suara perlahan tapi dalam, sambil menghembuskan rokoknya.

“Maksudnya gimana ? Kamu siapa ? “, tanya Bayu keheranan.

“Pokoknya malam ini pesan saya sampai di sini saja. Bilang kepada kamu dan ketiga teman baru mu itu, untuk tidak ikut campur urusan saya. “

Seketika laki-laki itu berbalik badan sambil meninggalkan Bayu. Baru satu langkah pergi dan belum sempat Bayu menanyakan apa maksud laki-laki itu, Bayu sudah melihatnya berubah menjadi sebuah asap hitam dan segera menghilang dari pandangannya.

See you on another adventure…

Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar