Dengan semakin terbukanya akses informasi tentang banyak hal, semakin terbuka keinginan seseorang untuk menjadi sesuatu. Dengan banyak melihat referensi dan informasi yang ada di luar sana, banyak cita-cita yang dilandaskan pada faktor wants, dan bukan pada faktor needs.Sementara masih minim pengetahuan mengenai bagaimana cara mengukur needs (kebutuhan) yang ada dalam diri seseorang.
Kenyataan bahwa setiap orang diciptakan secara unik dan berbeda satu sama lain, semakin tidak memudahkan untuk mengukur hal ini. Sementara dalam norma yang semakin dikenal di masyarakat, ada sebuah tuntutan bahwa seseorang harus memenuhi standard tertentu dalam hidupnya.
Kenyataan ini, akan semakin menyulitkan bagi seseorang untuk menentukan langkah baru dalam hidup. Menentukan cita-cita saja sudah terasa sulit ketika sudah mulai berbicara tentang needs atau wants, apalagi menentukan arah yang benar dan cocok dengan dirinya.
Sudah waktunya untuk kembali ke prinsip dasar kesederhanaan berpikir, yaitu dengan mengenali diri sendiri terlebih dahulu, sebelum menentukan arah dan tujuan hidup. Mengenali potensi yang ada dalam diri, dan mengontrol segala hal yang bersifat negatif adalah strategi utama yang perlu dijalankan untuk menentukan arah kehidupan selanjutnya bagi seseorang.

(Pic borrowed from Icilita account at Pinterest)
Berat ya bahasanya ya ? Kita rubah ke bahasa yang lebih sederhana ya…mungkin lebih enak dibaca..
Jadi kemarin ini ada seorang rekan di sini yang mengajak berdiskusi, mengenai Spiritual. Karena ingin tahu pendapat beliau….
Jadi saya mulai dengan pertanyaan, menurut anda apa sih spiritual itu ?
Jawabannya dimulai dari mendekatkan diri kepada Tuhan (BerkeTuhanan), yaaa..nggak salah sih..ini bener kok..tapi kalau ini artinya mengapa nggak pakai agama saja ? Apakah Spiritual itu sebuah agama ? Kalau begitu atheist nggak bisa dong mengalami spiritual ?
Jawaban ini yang common atau yang biasa diungkapkan untuk pertanyaan ini. Nggak salah dan bukan nggak bener juga. Lalu ada jawaban tentang supranatural dan mistis, sebagai jalur dari spiritual. Waduuuh, nggak salah sih, tapi terlalu lebar dan jauh banget melebar jadinya.
Ini bikin saya sadar, bahwa seperti 4 alinea pertama di tulisan saya ini di atas, bahwa ternyata banyak banget ya informasi yang dengan mudah kita dapatkan sekarang. Dari google, dari medsos, dari internet, dari grup WA, dan lain-lain, sehingga banyaknya informasi ini menyebabkan sebuah kelelahan di pemikiran. Kelelahan untuk memfilter segala sesuatu, dan membuat analisis sendiri.

(Pic borrowed from Zoetumasis account at Pinterest)
Ditambah lagi dengan faktor keinginan orangnya, banyak informasi yang membuat orang menjadi ingin ini itu, dan lebih fokus kepada wants nya yang notabene adalah kondisi eksternal dirinya. Ini bikin faktor needs nya jadi jauh lebih tidak diperhatikan, sedangkan kondisi needs pasti ada di kondisi internal.
Banyak yang punya pemikiran, “Ah saya ingin tahu ah tentang spiritual, karena teman saya memahami spiritual dan ternyata orangnya jadi lebih bahagia setelah itu, rejekinya nambah terus, nggak pernah susah lagi, hari hari ketawa-tawa terus..”. Lagi-lagi berfokus kepada faktor eksternal jadinya.
Belum lagi pendapat para pakar dan ahli spiritual di media sosial, yang memperlihatkan “kebesaran” arti sebuah kata dan keilmuan. Membuatnya jadi terlihat megah dan mewah, dengan membeberkan banyak fakta dan pengalaman mengenai Spiritual, sehingga menjadi sebuah produk baru berbalut sebuah cita-cita yang tinggi dan besar. Tapi fakta dan realitanya ? Tidak ada kok yang bisa menjanjikan tercapainya…
Saya yang bukan pakar dan bukan ahli, melihat ini dengan miris, dan ingin mengajak teman-teman di Ruang Sekala Niskala ini terutama, untuk : Yuk, berpikiran sederhana yuk..apalagi tentang Spiritual.
Spiritual itu hanya tentang mengenal diri sendiri kok, itu saja.
Spiritual adalah tentang mengenal bahwa ada hal yang lebih besar lagi di luar sana, lebih besar daripada dirinya. Tapi awal perjalanannya pasti tentang diri sendiri kok. Mengenal diri sendiri dulu.
Setelah itu baru bisa menyadari bahwa ada yang lebih besar dari dirinya.
Sesederhana itu sebenarnya pintu masuknya. Nggak lebih dan nggak kurang.

(Pic borrowed from Peebles account at Pinterest)
Nanti setelah kita tahu sebesar apa diri kita, seperti apa diri kita sendiri, apa yang menjadi sisi postifi dan sisi negatif diri kita, baru kita bisa mengetahui bahwa ada yang lebih besar dari diri kita sendiri. Mau itu ke arah kepercayaan kepada Sang Pencipta..bisa. Mau itu ke arah hubungan horizontal..lebih baik kepada sesama, bisa. Tapi itu perjalanannya, bukan arti sederhananya dari spiritual.
Dalam Ruang Sekala Niskala ini pun saya selalu gaungkan budaya untuk menyapa teman-teman yang ada di sini. Bukan karena sok akrab (eh..emang sok akrab sih..tapiii..), tapi biar teman-teman punya kebiasaan dan tidak malu-malu memperkenalkan diri. Itu branding dirimu harus dikenalkan kok ke orang, dan harus jadi sebuah acuan. Kalau anda mau semakin mengenal diri anda sendiri, berarti anda harus bisa membawakan diri anda itu di depan orang lain, begitu kan ya logika nya ?
Tapi tetap dalam prinsip kehati-hatian ya, ini forum dan medsos, jadi nggak semua orang perlu tahu tentang semuanya..tapi kalau sekedar kenal ? Saya rasa perlu kok..
Jadi jangan takut untuk mulali berspiritual setiap hari..
Selamat menjalani hari ini dan memulai perjalanan..
