Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
WPM [SAGA] wpm-saga cerita gaib kisah klenik makhluk-halus manusia-gaib misteri mistik novel novella rumor saga snu spiritual supernatural supranatural waroeng-podjok-mangkoes wpm

BOOK 1, Chapter #3: SABRINA, SI PENANGKAP EMOSI

“Permisi Mas Sakti”, terlihat seorang perempuan yang sudah berusia lanjut, nampak di depan etalasi warung Pojok. “Eh Mbok Dar..mau belanja ...

lovelie-light 15 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel BOOK 1, Chapter #3: SABRINA, SI PENANGKAP EMOSI

“Permisi Mas Sakti”, terlihat seorang perempuan yang sudah berusia lanjut, nampak di depan etalasi warung Pojok.

“Eh Mbok Dar..mau belanja apa Mbok ? Tumben malam-malam ke sini nya.”, Sakti berdiri dan mendekati etalase warung.

Bayu yang penasaran pun ikutan melongok, mencari asal suara perempuan tua itu. Bayu melihat seorang perempuan yang sudah berumur, dengan perawakan yang masih segar dan gempal, menandakan sering mengerjakan aktivitas fisik. Tapi dari raut mukanya tercermin sebuah kekhawatiran yang berat.

“Anu Mas Sakti..ini..Simbok mau minta tolong ke Mas Sakti..”, Mbok Dar terbata-bata dengan perkataannya.

“Iya Mbok Dar, silahkan Mbok, masuk saja. Kita bisa ngobrol panjang di dalam.”, Sakti berkata seraya keluar dari pintu samping etalasenya dan menjemput Mbok Dar.

Dengan sedikit tertatih-tatih, Mbok Dar mengikuti ajakan Sakti untuk masuk ke dalam ruang belakang etalase. Bukan karena kurang sehat, tapi karena banyak keragu-raguan di dalam diri Mbok Dar.

“Mbok Dar, ini ada teman saya, kenalkan..namanya Bayu, kami habis makan nasi goreng sama-sama. Mbok Dar sudah makan malam kah ?”, Sakti pun memperkenalkan Bayu, sambil mengantar Mbok Dar untuk duduk di kursi ruang belakang etalase.

“Halo Nak Bayu, saya Mbok Darmi, dipanggilnya Mbok Dar aja”, Mbok Dar menyapa Bayu dengan pelan. “Terima kash Mas Sakti, tapi saya sudah makan tadi.”

“Bayu..”, Bayu mengulurkan tangan menyambut tangan Mbok Dar sambil menganggukkan kepalanya.

“Bayu, ini Mbok Dar. Beliau bukan cuma langganan Warung saya, tapi sering mampir dan ngobrol-ngobrol. Beliau kerja di rumah yang di dalam kompleks di pinggir jalan depan sana. Bantu-bantu di rumah itu.”, Sakti pun memperkenalkan sosok Mbok Dar ini kepada Bayu.

“Nama keren nya Asisten Rumah Tangga Nak Bayu, pekerjaannya ya pembantu rumahan,”, Mbok Dar berkata pelan sambil tersenyum.

“Ah tapi Asisten Rumah Tangga yang disayang dan dibutuhkan kan Mbok Dar itu. Disayang loh sama seisi rumah Mbak Dar nya. Bukan cuma dibutuhkan tenaganya aja, tapi juga udah jadi bagian keluarga di rumah sana. Ya kan Mbok ?”, Sakti ikutan duduk sambil berbincang santai.

“Nah, soal itu yang Mbok Dar mau minta tolong sama Mas Sakti..”, Mbok Dar menunduk setelah berkata itu.

“Gimana Mbok ? Apa yang bisa saya bantu ?”, Sakti menanyakan duduk permasalahannya.

“Benar kata Mas Sakti tadi Nak Bayu. Simbok ini sudah lama jadi pembantu di salah satu rumah di dalam kompleks depan sana. Sudah ada 8 tahun bekerja di sana. Dari mulai majikan simbok baru nikah, sampai sekarang punya anak perempuan usia 5 tahun.”

“Simbok juga sudah dianggap saudara di rumah itu, jadi rasanya bukan lagi kerja, tapi jadi seperti bantu saudara. Bukan cuma makan saja yang selalu diajak bareng dengan semua angota keluarga, tapi juga perhatian mereka ke Simbok, yang selalu menanyakan keperluan dan kebutuhan hidup simbok sudah cukup atau belum ? ”

“Intinya sih, Simbok merasa seperti ada di rumah sendiri ketika bekerja di sana, walaupun selama ini hanya pagi sampai sore hari ada di rumah mereka, dan malam tetap simbok pulang ke rumah Simbok di gang belakang sana. Tapi perlakuan mereka sangat baik, bikin simbok merasa seperti saudara.”, Mbok Dar mulai perlahan-lahan bercerita, dengan gaya orang tua ketika bercerita, dengan banyak berputar-putar pada cerita mengenai latar belakang apa yang dirasakan.

“Syukurlah Mbok Dar, mereka kan memang keluarga baik-baik kok. Saya sendiri sih melihatnya seperti itu, apalagi kalau denger cerita dari cara mereka memperlakukan Mbok Dar seperti saudara sendiri.”, Sakti memberi tanggapan dari cerita Mbok Dar.

“Iya Mas Sakti. Tapi Simbok mau minta tolong ini ke Mas Sakti. Sabrina, anak perempuannya majikan Simbok, sakit terus Mas. Kata Papa Mamanya sudah dibawa ke dokter, dan sembuh, tapi nanti nggak lama sakit lagi. Begitu terus berkali-kali, berulang seperti itu terus Mas. ”

“Simbok nggak tega melihatnya. Apalagi dia baik banget sama Simbok, sudah kayak cucu sendiri rasanya. Simbok pengen banget bisa menolong, tapi bingung mau ngelakuin apa, apa yang Simbok bisa lakukan ya untuk Sabrina ? Biar dia nggak sakit-sakitan terus ?”, Mbok Dar tertunduk lesu, seperti menanggung beban kesedihan yang besar.

“Mbok Dar..kalau saya ke sana dan lihat Sabrina ? Kira-kira orang tuanya gak apa-apa nggak ya ? ”, Mas Sakti bertanya dengan tiba-tiba.

“Haaah ? Beneran Mas Sakti ? Mas Sakti mau bantu ? ”, Mbok Dar seperti tidak mempercayai apa yang didengarnya dari perkataan Sakti.

“Lho…iya dong..belum tentu bisa bantu sih. Tapi kan layak dicoba dan dilihat dulu. Tapi pertanyaanku sih itu Mbok, orang tuanya Sabrina nggak apa-apa nggak kalau saya ke sana ?”, Sakti bertanya.

“Eh, nggak apa-apa sih Mas Sakti. Agak lancang sih, saya udah cerita sih ke mereka tentang kemungkinan saya mau minta tolong ke Mas Sakti. Dan mereka bukan hanya terbuka soal itu..tapi justru senang ada yang mau bantu.”, Mbok Dar memberi penjelasan.

“Kapan kira-kira Mas Sakti ada waktu nya ?”, tanya Mbak Darmi.

“Sekarang juga boleh Mbok. Eh tapi Mbok Dar tanya dulu ke mereka, nggak apa-apa nggak kalau sekarang ? ”, ujar Sakti.

“Baik Mas, saya coba tanyakan ya ?”

“Ikut aja Bay..yuk ? Sebentar aja, nanti saya kenalkan sebagai teman saya. Mungkin nanti bisa menjawab pertanyaan-petanyaan yang ada di dalam kepalamu Bay. ”, Mas Sakti berkata kepada Bayu.

Bayu belum sempat berkata apa-apa, tapi kepalanya sudah memberi anggukan tanda setuju. Banyak sekali pertanyaan dalam kepalanya, tapi tidak mungkin ia tanyakan satu per satu kepada Mas Sakti. mungkin lebih baik jika ia ikut sebentar. Mungkin saja Mas Sakti benar, dengan menyaksikan sendiri, akan menjawab beberapa pertanyaan dalam benaknya.

“Tuh kan..Mbok Dar, ijin nya untuk kami berdua ya ? Saya dan Bayu.”

Sabrina’s House illustrated by: lovelie_light

Kompleks yang berisi rumah-rumah yang exclusive, dengan pintu portal keamanan di depan yang dijaga oleh petugas security, menggambarkan kondisi sosial ekonomi penghuni kompleks itu, yang berada di level menengah ke atas. Tetapi ketika rombongan Mbok Dar, Sakti dan Bayu memasuki sebuah rumah yang adem di dalam kompleks itu, terasa atmosfirnya benar-benar berbeda.

Tidak terasa aura kemegahan dan kemewahan dari tampak luar exterior, hanya sebuah kondisi atmosfir damai dan adem. Di tengah-tengah deretan rumah yang mewah, design rumah yang ini lebih terasa membumi dan nyaman.

Nggak lama, Mbok Dar memasuki halaman rumah dan pintu depan pun segera terbuka. Terlihat sepasang suami istri yang masih muda di depan pintu rumah.

“Malam Mas Ari..Mbak Alda…”, Mbok Dar menyapa pasangan muda itu.

“Mbok Dar, mari masuk Mbok..silahkan..silahkan..”, Ari, si suami muda, mengenakan pakaian santai di rumah, tapi masih menggambarkan kesederhaan dari gerak geriknya. Yang segera melangkah dari pintu dan menyambut tangan Mbok Dar, serta menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah.

“Mas Ari, kenalkan, ini Mas Sakti sama Mas Bayu, yang tadi saya ceritakan di telpon Mas.”, Mbok Dar pun menengok ke belakang dan memperkenalkan tamu-tamu yang dibawanya.

“Saya Sakti Mas, dan ini Bayu.”, Sakti berkata seraya mengulurkan tangan. Melihat hal itu, Bayu hanya sempat menganggukan kepala saja kepada Mas Ari.

“Saya Ari Mas, dan ini istri saya Alda, ”, tidak lama si istri pun menghampiri dan ikut menyambut tangan dari Sakti dan Bayu sambil tersenyum. Kemudian Alda bergantian menggandeng tangan Mbok Dar untuk melangkah masuk ke dalam rumah. Terasa sekali bagi siapapun yang melihatnya, bahwa Mbok Dar bukan sekedar dianggap sebagai Asisten Rumah Tangga di rumah itu, tapi lebih dihormati sebagai anggota keluarga yang lebih tua.

Rombongan pun masuk ke dalam ruang tamu di rumah itu.

Setelah selesai sesi berkenalan, dan dengan disuguhi oleh tuan rumah dengan teh manis hangat serta kue-kue kecil, mulai lah Ari membuka percakapan.

“Mas Sakti, kita udah dengar cerita dari Mbok Dar tentang Mas Sakti. Katanya Mas Sakti sering bantu-bantu orang. Kami ada persoalan sedikit nih, mungkin Mas Sakti bisa bantu kesulitan kami.”, Mas Ari berubah raut mukanya, tidak sesumringah ketika menyambut Bayu & Sakti tadi.

“Ah Mbok Dar pasti ceritanya berlebihan itu Mas Ari, saya kan cuma menghubungkan antara teman ke teman kok. Beberapa kali cuma jadi penghubung saja, ada teman yang kesusahan, tapi ada teman lain yang bisa bantu. Hanya begitu saja kok Mas Ari.”, Sakti membalas sambil menyeruput teh manis hangat di dalam cangkir yang disuguhkan.

“Tapi silahkan kalau Mas Ari mau cerita kesulitannya, semoga kami bisa diijinkan untuk membantu bila sanggup.”, Sakti pun mempersilahkan Ari untuk bercerita.

“Jadi gini Mas Sakti..kami punya anak perempuan, Sabrina namanya, usianya baru 5 tahun. Dia anak satu-satunya, dan dari kecil sering sekali sakit-sakitan. Sudah sering kami bawa ke dokter, tapi selalu diagnosa yang kami terima dari dokter hanya seputar penyakit biasa. Antara kecapekan, kena virus, pencernaan terganggu, kurang istirahat. Bukan kami nggak percaya dengan dunia medis dan diagnosa nya. Tapi kondisi Sabrina yang sakit dengan interval setiap 2 bulan sekali, ini jadi menambah kekhawatiran kami.”, Ari bercerita panjang mengenai kesulitannya, sambil sesekali melirik Alda, istrinya.

“Iya, Mas Sakti. Maksudnya suamiku ini, Sabrina kok terlalu sering ya sakitnya ya ? Mungkin kah ada penyebab lain yang bukan faktor medis Mas ? Kami khawatir sekali sama kondisinya.”, Alda sang istri pun melengkapi cerita suaminya.

“Sekarang di mana Sabrina nya Mas ? Mbak ? ”, Tanya Sakti sambil melemparkan pandangan ke sekeliling rumah.

“Ada di kamarnya Mas, lagi sakit..sakit lagi..aduh, gimana ya neranginnya ?”, Alda kebingungan menyusun kata-kata untuk menjelaskan lebih jauh lagi.

“Seminggu lalu kami pergi ke rumah Bapak Ibunya Alda Mas, mertua saya. Menengok mertua. Sabrina ikut, dan main sama sepupu-sepupunya, anak-anaknya kakaknya Alda. Kebetulan ada keponakan saya yang lagi sakit waktu itu, jadi Sabrina kelihatannya ketularan dari dia.”, Ari menerangkan lebih detil lagi mengenai kondisi Sabrina.

“Owalah..kasihan. Panas dan demam ya Mas Ari ? ”, Sakti bertanya.

“Iya Mas, seperti gejala flu gitu. Sudah kami bawa ke dokter 3 hari yang lalu, dikasih obat penurun demam, tapi belum berhasil di Sabrina. Sampai hari ini masih lemas dan demam dia.”, Ari menunjukkan raut muka kebingungan.

“Kira-kira, diijinkan nggak ya saya kalau lihat dan nengok Sabrina secara langsung ? Barangkali bisa pas nanti kirim doa nya untuk kesembuhan Sabrina.” , Sakti bertanya kepada pasangan suami istri itu.

“Boleh…Silahkan Mas ”, keduanya menjawab berbarengan, dengan raut muka dan sinar mata yang berseri-seri.

“Nah tuh, bisa kompak gitu suami istri..jodoh banget tuh tandanya,”, Sakti berusaha mencairkan keadaan.

Rombongan itupun tertawa bersama-sama. Paling tidak, ketegangan sudah bisa dilalui, segala ketidak enakan dan kondisi rikuh untuk bercerita bisa cair dalam sebuah obrolan singkat. Meskipun obrolannya masih di seputar cerita mengenai kesulitan, tapi tetap bisa diselingi dengan kehangat dan kedekatan.


Pintu kamar Sabrina dibuka oleh Ari, sementara Sang Istri, Alda, langsung menyeruak masuk menghampiri anak perempuannya yang sedang berbaring ditutupi selimut.

“Sabrina…”, Alda memanggil lirih anaknya, sambil mengambil posisi duduk di sisi ranjang, tepat di sebelah anaknya yang sedang tidur tertutup selimut.

Anak perempuan kecil yang lucu itu pun membuka matanya perlahan, ketika mendengar suara Sang Mama. Mata sayu itu memandang wajah Mamanya, raut muka yang pucat pun terpajang di wajahnya, wajah cantik yang merupakan perpaduan antara Ari dan Alda.

“Maaa..”, suara Sabrina terdengar parau dan lirih.

Sabrina illustrated by: lovelie_light

Alda segera menempelkan tangannya ke dahi Sabrina, lalu menariknya kembali. Setelah itu menengok ke arah suaminya, dan mengisyaratkan dengan sebuah gerakan menggeleng kecil. Ari yang melihat isyarat dari istrinya hanya menarik napas panjang.

“Sabrina, ini Papa nak…ini ada teman Papa, namanya Om Sakti, kenalan dulu yuk Sayang ? Dia ke kamar Sabrina boleh ya ? Dia mau nengokkin anak cantik Papa yang lagi sakit.”, Ari berkata pelan kepada Sabrina.

Sabrina melihat ke papanya, sambil mengejapkan mata tanda setuju.

Setelah melihat itu, Ari mempersilahkan Sakti dan Bayu untuk masuk ke dalam kamar. Keduanya berjalan perlahan memasuki kamar Sabrina, dan melihat Sabrina kecil berbaring lemah di ranjang bersebelahan dengan beberapa boneka teman tidurnya.

“Hai Sabrina, ini Om Sakti..dan ini Om Bayu. Sabrina sakit apa ?”, Sakti berkata pelan.

“Hai Om..lemes Om Sabrinanya..”, Suara lirih Sabrina menjawab pertanyaan Sakti.

“Oooow..gak apa-apa kok. Sebentar lagi sembuh kok nih, nanti Om kirim tenaga-tenaga dan doa-doa buat Sabrina. Biar bisa lari-lari dan main lagi. Ya ? ”, Sakti memperlihatkan sikap simpati kepada Sabrina, dengan berjalan mendekati ranjang, tapi dengan posisi tetap tenang.

“Mas Ari, ini berarti udah hari ke 6 atau ke 7 panas badannya Sabrina ya ? ”, Tanya Sakti kepada Ari.

“Iya Mas, bener. ”, Ari menjawab singkat.

“Kasihan anak cantik ini, kamu jangan lama-lama dong sakitnya. Besok sembuh yaaaaa..”, Sakti mendekatkan diri ke arah Sabrina, dan mengelus kepalanya dengan lembut.

“Sekarang istirahat ya, jangan ngapa-ngapain dulu.”, Sakti menambahkan, “Nanti Om Sakti kirim kesaktiannya, biar Sabrina bisa sembuh.”

Sabrina tersenyum kecil mendengar itu, dan mengangguk perlahan dengan kepala lemas. Tidak lama Sabrina memejamkan kembali matanya dan tertidur.


“Anak Mas Ari itu spesial loh.”, Sakti berkata setelah mereka duduk kembali di ruang tamu. Di depan mereka masih tersedia teh manis yang sudah tidak hangat lagi.

“Iya Mas Sakti, terima kasih. Kami tahu kok, Sabrina spesial buat kami, ”, Ari mengiyakan, tapi masih dengan posisi yang lemah, seakan-akan tidak mengerti harus berbuat apa.

“Bukan itu maksud saya, Sabrina itu spesial. Bukan cuma buat Papa Mama nya saja, tapi buat orang lainpun Sabrina itu spesial. Apalagi buat orang lain yang bisa melihat kondisi sebenarnya. ”, Sakti berujar pelan, menjelaskan lebih jauh maksud dari perkataan singkatnya tadi.

“Maksudnya gimana Mas ? ”, Kali ini Alda yang ingin tahu maksud lebih jelasnya.

“Nah kan, Mas Ari & Mbak Alda belum tahu ya kalau anaknya istimewa ? ”, Tanya Sakti. “Saya bertanya dulu deh, Sejak Sabrina lahir, Mas Ari & Mbak Alda sering mengalami sakit nggak ? Penyakit tertentu gitu ? ”

Ari dan Alda saling bertukar tatapan mata, kelihatan sekali mereka sedang memutar memory mereka sejak 5 tahun lalu, pada waktu kelahiran Sabrina. Keduanya saling memberi isyarat dengan menggelengkan kepala.

“Nggak Mas..seingat kami nggak pernah deh ”, Ari berkata sambil melihat kembali ke gelengan istirnya.

“Coba diingat-ingat lagi pelan-pelan Mas dan Mbak. Masak sih selama 5 tahun usia Sabrina, kalian berdua nggak pernah sakit ? ”, Sakti mempertajam pertanyaannya dan semakin detil.

Ari dan Alda kembali saling tatap, dan ada keheningan sebentar, menunggu mereka mengumpulkan memory lama. Tapi keduanya kembali saling memberikan isyarat berupa gelengan kepala kecil.

“Nggak pernah Mas, seinget kami loh ya.”, Ari kembali menjelaskan.

“Menurut Mas Ari dan Mbak Alda, aneh nggak itu ? Masak iya selama 5 tahun ada orang yang nggak pernah sakit batuk, pilek, ataupun penyakit-penyakit lainnya ?”, Sakti kembali bertanya.

Kedua suami istri itu pun seperti disadarkan oleh sesuatu di dalam pikirannya. Keduanya mengeluarkan sebuah gestur terkejut dan tersadar, kecil saja, tapi hal itu terlihat dengan jelas oleh Bayu.

“Eh iya Mas, baru sadar..”, Ari terbata-bata mengeluarkan perkataan selanjutnya.

“Kita nggak pernah sakit ya Ma ?”, Ari menengok ke istrinya, dan bertanya. Sementara Alda memikirkan hal yang sama, dan baru menyadari hal tersebut.

“Kok aku juga baru ngeh ya Pa, kita nggak pernah sakit loh selama ini loh.”, Alda berkata dengan raut muka kebingungan. “Tapi apa hubungannya sama Sabrina Mas Sakti ? ”

“Sebentar…”, Kata Mas Sakti. “Kalau boleh saya tanyakan lagi, sepupunya Sabrina, yang kemarin ketemu di rumah neneknya, yang sakit dan main bersama Sabrina itu, gimana kondisinya sekarang ? Masih sakit kah ? Atau sudah sembuh ? ”, Tanya Sakti.

“Sudah sembuh Mas..anak kakak saya hanya di hari itu saja demam sebentar, tapi waktu kembali ke rumahnya, sudah sembuh dan nggak jatuh Sakit. Malah Sabrina yang jatuh sakit”, Jawab Alda dengan nada bicara terheran-heran.

“Kalian berdua sudah sadar belum ? Betapa spesialnya Sabrina ? ”, Kata Sakti.

“Belum Mas..boleh dijelaskan nggak soal ini ? Maksudnya gimana ?”, Ari memajukan posisi duduknya, seakan-akan tidak sabar menunggu jawaban dari Sakti.

“Gini…”

“Sabrina itu punya kemampuan empati yang sangat hebat. Dari kecil dia sudah bisa merasakan orang yang merasa sakit dan sedih. Dan lebih spesialnya lagi, dia bisa menyerap itu semua dari orang di dekatnya, dan memasukkannya ke dalam dirinya sendiri. ”

“Mas sama Mbak nya nggak pernah merasa sedih yang berlarut dan lama kan semenjak kelahiran Sabrina ? ”, Sakti tiba-tiba bertanya lagi kepada Ari dan Alda.

“Nggak Mas..”, Ari menjawab, dengan raut muka kosong. Seakan-akan sedang menyaksikan film di dalam kepalanya, mengenai apa yang terjadi dalam kehidupan mereka semenjak Sabrina lahir.

“Nah, cuma sayangnya, karena kemampuan ini dimiliki oleh Sabrina sejak lahir, dia belum memiliki cara untuk mengontrol kemampuannya. Kemampuan ini adalah sebuah anugrah alami, tapi tidak disertai dengan kemampuan mengontrolnya. Paling nggak, Sabrina kecil belum bisa kontrol hal itu. Jadi setiap dia ketemu dengan orang-orang sekitarnya yang sedang sedih ataupun sakit, secara otomatis dia akan menyerap sakit dan sedih itu ke dalam badannya.”, Sakti menjelaskan panjang lebar mengenai kondisi Sabrina.

“Bukan cuma itu saja, tapi Sabrina juga belum memliki kemampuan untuk membuang apa yang sudah diserap oleh nya. Itu sebabnya, segala rasa sedih, sakit, kecewa, itu menumpuk jadi satu di dalam dirinya. Dan itulah yang menyebabkan Sabrina jadi sering sakit.”, Sakti menyelesaikan penjelasannya dengan sebuah kesimpulan.

Ari dan Alda, tanpa disadari, segera berpegangan tangan. Keduanya mendekatnya diri, dan kelihatan saling memberikan support. Cerita dan penjelasan dari Mas Sakti benar-benar membuat keduanya kaget dan shock. Mereka tidak tahu harus berkata apa, bukan karena tidak mampu mengambil sikap, tapi karena pikiran mereka terlalu penuh dengan kejadian-kejadian yang baru mereka sadari. Belum lagi ditambah rasa bersalah yang dalam, karena ternyata salah satu penyebab anak perempuan satu-satunya sakit adalah karena perasaan mereka sendiri.

“Jadi…kami harus gimana Mas Sakti ? ”, Ari terbata-bata melontarkan pertanyaan, yang dia sendiri tidak tahu dan tidak bisa menduga jawabannya.

“Gpp Mas Ari, santai aja. Sebagai solusi sementara, sedari tadi saya sudah mencoba untuk mengambil energi sakitnya Sabrina ke diri saya. Jangan khawatir, kalau saya bisa kok membuangnya nanti, jadi Mas Ari dan Mbak Alda nggak perlu khawatir..”, Ujar Sakti dengan santai.

“Haaaaa ? Kapan Mas Sakti ?..Maksudnya saya, kapan Mas Sakti melakukan itu ? ”, Ari terbingung-bingung dengan keterangan dari Sakti.

“Ya sejak tadi, sejak ketemu sama Sabrina, saya sudah coba hal itu kok. Sekalian alirkan sedikit energi untuk memperkuat badannya.”, Sakti menjawab.

“Tapi..saya nggak lihat Mas Sakti ngapa2in di situ..kok bisa ? Maksudnya, apa nggak perlu baca mantra gitu ? Atau pake gerakan apa gitu ? ”, Ari tetap kebingungan dengan banyak pertanyaan dalam pikirannya.

“Hahahahaha..Mas Ari nih terlalu banyak nonton film barangkali. Mantra dan gerakan-gerakan khusus itu kan untuk show & gimmick aja Mas, aslinya sih, nggak perlu pakai itu juga bisa kok.”, Sakti berujar sambil tertawa, yang membuat seisi ruangan tertawa pelan.

“Maaaaaa…”

Tiba-tiba mereka dikagetkan oleh suara lirih Sabrina, yang berasal dari pintu kamar Sabrina yang terbuka. Sabrina sudah berdiri di luar kamarnya sambil memegang boneka, dengan raut muka yang sedikit lebih segar dari sebelumnya.

“Aku lapar Ma…”

See you next Chapter…

Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar