Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
WPM [SAGA] wpm-saga

BOOK 1, Chapter #7.5: GADIS MISTERIUS DAN AROMANYA

Setelah Sakti kembali ke raga fisiknya untuk menolong Bayu, Tunggal Dewi dan Maheswari tetap mengawasi Kalingga dan Gadis misterius yang membuat Sakti bertan...

lovelie-light 8 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel BOOK 1, Chapter #7.5: GADIS MISTERIUS DAN AROMANYA

Setelah Sakti kembali ke raga fisiknya untuk menolong Bayu, Tunggal Dewi dan Maheswari tetap mengawasi Kalingga dan Gadis misterius yang membuat Sakti bertanya-tanya.

“Bagaimana Maheswari, apa yang kamu rasakan” tanya Tunggal Dewi.

“Aku mencium dan merasakan sesuatu yang mirip denganmu Kak Tidi.” sahut Maheswari singkat.

“Owh… benarkah?” tanya Tunggal Dewi kagum.

“Gadis itu punya aroma yang hampir mirip dengan dirimu Kak Tidi, dan energinya… dia bisa menyembunyikan energinya, cerdas!” sambung Maheswari.

.

[Penglihatan Maheswari]

Kalingga terhempas ke belakang akibat dari serangan yg dibalikkan oleh gadis itu. Tubuhnya menghantam keras tembok dari perisai energi yang sebelumnya sudah dibuat.

“Kamu curang sudah mencuri ilmuku!” sahut Kalingga terengah dan berusaha berdiri dengan keempat kakinya walaupun agak sempoyongan.

“Aku bukan mencuri, hanya mengembalikan apa yang kamu kasih ke aku, aku rasa itu cara paling adil dalam permainan ini!” sahutt gadis itu berusaha menahan suaranya agar terdengar tenang, walaupun bisa terlihat dia sedikit kesulitan untuk bernafas normal.

“Adil kamu bilang! Itu sama saja seperti menghinaku!” ujar Kalingga penuh dengan kemarahan, wajahnya menyeringai memperlihatkan taring taring panjang dan bersiap siap untuk menyerang gadis itu.

Tiba tiba serangan yang entah dari mana datangnya nyaris mengenai gadis itu kalo saja sesuatu tidak menangkisnya. Tampak perisai api biru keunguan melingkari gadis itu dan muncul sosok asing yang energinya langsung mendominasi.

Banaspati-Geni, ras soliter yang sangat jarang ikut campur urusan lain kecuali… kecuali dia mengabdi pada entitas lain yang lebih tinggi darinya.

Sosok seperti manusia berambut putih panjang itu pasang badan melindungi si gadis misterius di belakangnya. Tak lama sosok penyerang itu pun menampakkan diri, sambil tertawa menggema, sosok pocong dengan penampilan setengah gosong terbakar muncul di hadapan mereka.

Tubuh pocong itu masih terlihat membara karena terbakar, sementara bau amis busuk dan bau hangus menyeruak dari sosok itu, dia pikir bau busuk itu bisa mengintimidasi siapa saja…… AMATIR!

“Bocah ini mengganggumu Kalingga” ujar si pocong.

“Tingkahnya sedari tadi membuatku kesal, biar aku yang menghabisinya!” lanjut pocong itu.

“Kamu diem disini!” ucap Banaspati-geni pada si gadis misterius.

Sambil memberi isyarat tangan agar gadis itu tidak keluar dari perisai energi yang dibuatnya, dan Banaspati itu pun maju menghadapi sosok pocong tersebut.

“Aku tidak ada urusan denganmu, berikan anak itu padaku!” ujar pocong itu.

“Coba lewati aku dulu!” balas si Banaspati.

Tiba-tiba kobaran api kuning kemerahan muncul dan membara di samping gadis misterius itu diiringi kemunculan sosok lain, wanita cantik bak dewi dengan nyala api merah, menggenggam tangan kanan si gadis dan tersenyum padanya, gadis itu membalas senyuman sosok itu dan menggandengnya dengan manja..

.

“Wadaaaw…Dua Banaspati?” gumam Maheswari.

“Iya, tapi itu baru permulaan…” sambung Tunggal Dewi.

“Bagaimana seorang gadis muda dengan energi yang subtle, bisa punya dua banaspati yang melindunginya?” lanjut Maheswari.

“Seperti yang kamu bilang Maheswari, energinya subtle…” lanjut Tunggal Dewi tersenyum.

“Jika dia punya aroma yang hampir sama dengan Kak Tidi berarti dia…” sebelum Maheswari selesaikan kalimatnya Tunggal Dewi memberinya isyarat untuk diam.

“Sudah sudah… kamu lihat saja apa yang terjadi disana.” lanjut Tunggal Dewi.

.

[Penglihatan Maheswari]

“Namamu tidak lagi menakutkan seperti dulu, dasar Banaspati buangan, dengan senang hati aku akan menghabisimu pengkhianat!” ujar pocong itu sambil mengeluarkan semua energinya untuk mengintimidasi.

Tapi tanpa diduga…

“BRUUUAAAAGGGGHHHHHH!”

Tubuh Kalingga yang besar menimpa sosok pocong itu dari belakang. Sementara taringnya sudah menancap di kepala pocong itu. Serta-merta kobaran api perlahan melahap tubuh pocong itu dan dengan cepat Kalingga menarik kepala pocong itu hingga terlepas dari tubuhnya. Kalingga melumat kepala pocong itu dan memuntahkannya.

“Lancang! Ini bukan urusanmu! Kalo kalian sudah bosan hidup, majulah!” sahut Kalingga penuh amarah. Kemudian Kalingga menyapu pandangannya ke segala arah, sosok sosok yang menonton di sekeliling mereka perlahan mundur dan menghilang di kegelapan. Kalingga mendekati sosok Banaspati biru, dan di hadapan Banaspati itu Kalingga sengaja mendengus dengan keras kearah wajah si Banaspati.

“Aku mungkin tidak akan menang melawan mu, tapi aku ga akan berhenti berjuang untuk diriku!” sahut Kalingga dengan tatapan tajam ke arah Banaspati biru itu.

Dan si Banaspati hanya tersenyum lalu mengangkat kedua tangannya dan mundur perlahan sejajar dengan si gadis, sebagai pertanda dia tidak akan melawan Kalingga.

Gadis itu tersenyum sumringah dan bertepuk tangan kemudian melangkah keluar dari perisai energi yang diciptakan Banaspati biru sebelumnya. Banaspati Biru dan Merah berdiri berdampingan di belakang si gadis.

“Serang aku dengan semua yang kamu miliki!” tantang Kalingga.

“Oke, kita mulai yaa…” sahut gadis itu senang. Gadis itu memandang kearah Kalingga dengan penuh antusias, sementara Kalingga membalas itu dengan pandangan sinis dan penuh curiga.

Tanpa terduga, gadis itu meneriakkan sesuatu dan gemuruh besar terdengar mendekat.

“Xiao Lu, sekarang!” pekik gadis itu lantang.

Seketika tanah yang mereka pijak bergetar, sebuah hentakan besar membuat pijakan Kalingga tidak stabil dan membuatnya tersungkur. Lalu makhluk hijau panjang dan besar dengan cepat menjerat tubuh Kalingga dan membuatnya tidak bisa bergerak.

“Semakin kamu bergerak Xiao Lu akan menjeratmu semakin kencang!” sahut gadis itu sambil berjalan mendekati sosok Kalingga yang kepayahan mencoba melepaskan diri dari jeratan Xiao Lu si ular besar itu. Dia bahkan memberi nama ular itu dengan nama lucu, Xiao Lu … Si Kecil Hijau… kecil dari mana coba…

.

“Bukan… itu bukan ular biasa.” gumam Maheswari.

“Eung… itu ras Naga!” balas Tunggal Dewi.

“Dua Banaspati… Naga… lalu apa lagi…??? ” Maheswari menepuk jidatnya dan menyerah dengan pikirannya sendiri.

“Coba kamu lihat ke atas sana…” ujar Tunggal Dewi sambil mengarahkan telunjuknya ke arah langit. Maheswari tertegun sejenak dengan apa yang dilihatnya…

“ANGKERAN!!” pekiknya.

“Sssstttt…” Tunggal Dewi tersenyum geli melihat Maheswari yang terkejut melihat Naga Putih raksasa meliuk-liuk di angkasa sambil menaungi gadis itu.

Naga Putih yang dikenal dengan julukan Angkeran, entitas raksasa yang terkenal bisa melahap habis ribuan tentara gaib dalam sekali telan. Naga yang dikenal sebagai associate dengan kerajaan Danyang Ratu Samudra.

Dalam keadaan amaze, Maheswari kembali menyaksikan apa yang terjadi di hadapannya.

.

“Hero kenalkan ini Xiao Lu dan Xiao Lu kenalkan ini Hero!” ujar gadis misterius itu. Kalingga hanya mendengus kesal sementara kepala Xiao Lu mendekat kearah wajah Kalingga, matanya memandang tepat ke mata Kalingga, dan lidahnya menjulur diiringi desis-an lembut seolah olah menyapa Kalingga. Sementara Kalingga membalas tatapan Xiao Lu dengan pandangan tajam penuh dengan kekesalan.

“Ka… kamu currr…rang!” sahut Kalingga terbata.

“Lep… paskannn aa…ku!” lanjutnya.

“Tidak sampai kamu mengaku kalah dan bersedia ikut denganku!” ujar gadis itu sambil mendekatkan wajahnya ke arah wajah Kalingga dan memegang bagian hidungnya, Hero langsung mendengus kasar dan semakin kesal, dia terus berontak berusaha melepaskan diri, tapi jeratan Xiao Lu semakin kencang membuat hampir seluruh tubuh Kalingga terbungkus lilitan tubuh Xiao Lu.

“Manusi…a se…mu…a…nyaa… hahhhh… sa…maaaa… pe…niiiih…puuuh!” ujar Kalingga terbata sambil terus berusaha melepaskan diri dari jeratan Xiao Lu.

“Eitss… aku ga menipu! Di permainan kita inikan ga ada peraturan ga boleh dibantu, lagi pula kamu yang bilang, serang dengan semua yang aku miliki, Xiao Lu salah satu yang aku miliki!” balas gadis itu tenang.

Kalingga sama sekali tidak menyerah dan masih tetap melawan, berusaha untuk melepaskan diri, beberapa kali terlihat ada percikan api dari tubuh Kalingga, dia berusaha membakar Xiao Lu tapi tidak berhasil karena tenaganya semakin melemah akibat jeratan dari Xiao Lu. Xiao Lu tak bergeming, sementara terlihat Kalingga hampir hilang kesadaran.

“Kamu pengecut!” sahut gadis itu tiba-tiba. Sambil memberi isyarat pada Xiao Lu untuk longgarkan jeratannya dari tubuh Kalingga.

“Saking bencinya sama manusia kamu lebih memilih mati ketimbang ikut denganku, payah!”

“Padahal kamu sudah janji, jika aku mengalahkanmu, kamu akan ikut aku, tapi kamu bohong, ga ada bedanya sama manusia-manusia yang ucapannya ga bisa dipegang!” lanjut gadis itu kesal.

Perlahan Xiao Lu melepaskan tubuh Kalingga dan Kalinggapun terkulai lemah, Xiao Lu mengecil tubuhnya seukuran ular normal dan menggulungkan tubuhnya di samping tubuh Kalingga yang sudah terkapar ga berdaya. Sementara nafas Kalingga cepat memburu, pandangan matanya tepat ke gadis itu.

“Aku kalah! Lakukan semaumu!” sahut Kalingga singkat.

“YESSSS!!” gadis itu memekik keras dan berjingkrak kegirangan.

“Makasih ya!” sahut gadis itu sambil membelai kepala Kalingga. Sementara Kalingga masih bernafas dengan cepat sambil memejamkan matanya.

Ada rasa lega disana.

.

“Pride…” gumam Maheswari.

“Gadis itu tau benar, bangsa kami punya Pride yang tinggi, dan itu jadi senjata untuk menaklukan Kalingga.” tambah Tunggal Dewi.

“Kalingga mengaku kalah demi Pride-nya?” tanya Maheswari.

“Bisa iya… bisa juga tidak, tapi aku yakin Kalingga punya pertimbangan lain” lanjut Tunggal Dewi.

.

Kalingga dan Gadis Misterus illustrated by lovelie_light

Tiba-tiba…

“Aku harus melenyapkan mereka semua atau, memindahkan mereka ketempat yang lebih aman?” tanya gadis itu pada Kalingga sambil menunjuk ke segala arah dimana banyak makhluk makhluk lain bersembunyi di kegelapan..

“Kamu bilang kamu ga sama seperti manusia manusia sampah itu kan! Lakukan yang menurutmu benar!” sahut Kalingga dengan nafas yang masih tersengal dan mata yang masih setengah terpejam.

“Oke!” sahut gadis itu singkat. Dia berdiri dari duduk nya dan berjalan menghampiri teman temannya untuk membuat skema penyelesaian proses pembersihan di teritori.

Pekerjaan kami di tempat Pak Drajat secara tidak sengaja dibereskan oleh gadis itu dan timnya.

Malam ini sebuah takdir mempertemukan banyak entitas melalui timeline waktu yang sama dan melalui singularitas waktu yang berbeda. Gadis itu berjodoh dengan Kalingga, kami berjodoh dengan Gadis itu walau tanpa disadarinya, dan pertemuan ini akan merubah takdir dari semua yang terlibat di dalamnya.


Enjoy this additional chapter, before the second book. See you guys…

Tag Terkait: #WPM [SAGA]
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar