Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
king-s-lair cara-menentukan-tujuan-hidup cita-cita menentukan-tujuan titik-tujuan tujuan-hidup

Cita-cita

Ketika waktu kecil kita sering mengungkapkan cita-cita kita, karena kekaguman kita akan seseorang ataupun profesi yang dimilikinya. (ilustrasi pinjam dari Pi...

lovelie-light 9 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel Cita-cita

Ketika waktu kecil kita sering mengungkapkan cita-cita kita, karena kekaguman kita akan seseorang ataupun profesi yang dimilikinya.

(ilustrasi pinjam dari Pinterest)

Ada yang karena melihat dan kagum terhadap sosok tertentu, seperti misalnya : Ingin jadi dokter, karena kagum dengan seorang dokter. Ingin jadi pilot, karena kagum dengan sosok seorang pilot. Ingin jadi guru, karena kagum dan respect terhadap peran seorang guru.

Ada yang karena merasakan. Jarang anak kecil yang bercita-cita ingin menjadi seorang Ibu, jarang sekali ketika ditanyakan cita-citanya apa, dan dijawab mau jadi Ibu. Tapi perilakunya dalam bermain mencerminkan apa yang dia rasakan, perilaku seorang anak perempuan yang bermain boneka-bonekaan misalnya dan menyuapi bonekanya.

Atau profesi seorang juru masak, ini juga jarang jadi cita-cita seorang anak kecil. Tapi dalam permainannya selalu melibatkan adegan masak-masakan.

Ada juga yang tidak terlihat dan tidak dirasakan. Seperti peran seorang ayah, hampir tidak ada anak kecil yang bercita-cita mau jadi seorang ayah. Atau seorang petani, tidak ada seorang anak kecil yang mau jadi petani. Mungkin karena kedua profesi dan peran ini tidak memperlihatkan kemudahan dan kenikmatan yang patut dikagumi. Padahal kan aslinya nggak gitu sama sekali.

Jadi dari beberapa contoh kecil di atas, bisa disimpulkan bahwa untuk menentukan sebuah cita-cita, orang seringkali melihat sebuah sosok yang dikagumi sebagai panutannya. Untuk bisa mengatakan sebuah cita-cita yang tinggi, ia perlu melihat sosok itu. Padahal banyak sosok lain yang lebih dekat dengan dirinya, yang bisa dirasakan. Serta lebih banyak lagi peran besar yang tidak pernah mengeluarkan publikasi kenikmatan dan keenakan kehidupan mereka.

Dari pemikiran ini saja sudah terlihat ada gap mengenai cita-cita, karena input yang masuk melalui panca indra, maka hal itu yang menjadi sorotan utama dalam menentukan cita-cita. Tapi banyak yang mengesampingkan rasa dalam menentukan cita-cita, seperti pada cita-cita menjadi seorang Ibu di atas. Belum lagi cita-cita lebih besar lagi seperti menjadi seorang petani, tidak masuk ke dalam penalaran pertama anak-anak karena wujudnya tidak terlihat dengan baik.

Note : Mungkin yang kelahiran tahun muda lebih nggak relate dengan contoh-contoh di atas, karena permainan fisik sudah mulai jarang dilakukan di masa kecilnya. Sudah ada youtube dan movie streaming di jaman sekarang, jadi kegiatannya lebih banyak nonton. Plus informasi yang masuk menjadi lebih banyak lagi dan tidak tersaring melalui pengalaman. Semua informasi akan dinyatakan sebagai valid dan betul, karena tidak perlu lagi dibuktikan dengan pengalaman. Dan tidak perlu dikembangkan dengan imajinasi, beda ketika kita bermain perang-perangan pada masa kecil, itu dunia yang penuh dengan imajinasi sendiri.

Jadi bagaimana menentukan cita-cita ?

Sementara contoh dan cerita di atas menimbulkan kewajaran dan kenormalan dengan alasan : anak-anak kan masih kecil dan mungkin berubah, tapi pada realita nya masih banyak orang yang melakukan pola pemikiran seperti anak-anak di atas. Hanya melihat sebuah profesi yang kelihatan enak dan mudah, lalu mengidolakannya.

Sedangkan menurut tulisan di atas, ketika menentukan cita-cita dengan mengandalkan informasi yang masuk melalui panca indra dan kekaguman yang tercipta, akan menimbulkan bias kepada apa yang dirasakan.

Banyak kok yang menganggap bahwa dirinya gagal dalam kehidupan, karena gagal menggapai cita-citanya. Tapi tidak mengukur kemampuan dirinya sendiri dalam mencapai cita-cita tersebut.

Banyak orang yang saya temui dan berbincang, yang memiliki perasaan gagal dalam hidupnya, karena tidak dapat mencapai cita-cita dan tujuan hidupnya. Setelah dicoba untuk digali lebih dalam lagi, ternyata apa yang dia kerjakan tidak cocok dengan dirinya.

Ada teman yang ingin punya sebuah tempat makan, karena senang memasak, tapi sehari-hari bekerja sebagai staff keuangan dalam sebuah kantor. Ada seorang teman lagi yang punya intuisi tinggi terhadap orang, tapi bekerja di back office sebuah kantor, yang mana dia tidak suka berhubungan dengan alat, lebih suka berkomunikasi dengan orang. Alhasil keduanya tidak merasakan kenikmatan dan passion dalam bekerja, karena jauh sekali dari keinginan dan minatnya.

Masalah yang timbul dalam menentukan sebuah cita-cita itu menurut saya adalah salah arah dalam melihat pertama. Melihat tujuan dulu, aliih-alih melihat diri sendiri dulu.

Sekarang, mari kita diskusi mengenai menentukan tujuan hidup.

Iya, kalau bicara tentang cita-cita, kesan nya jadi kekanak-kanakan soalnya, karena bahasa ini sekarang mempunya arti yang sangat sederhana. Tapi ketika menggunakan istilah tujuan hidup, mungkin baru terasa agak serius.

Bagaimana menentukan tujuan hidup dan langkah ke depannya dengan pas.

Sama seperti ketika merencanakan sebuah perjalanan. Yang pertama dilihat adalah titik awal atau titik startnya dulu, bukan tujuannya (titik finish). Cuma, karena kebiasaan orang bahwa titik start ketika memulai perjalanan adalah di rumahnya sendiri atau dari kota nya, maka ini sering terlupakan. Padahal menentukan banget titik start itu.

(ilustrasi dari Pinterest)

Secara garis besar mungkin urutannya dalam menentukan sebuah perjalanan adalah sebagai berikut :

Menentukan titik start atau titik awal.

Menentukan titik finish atau titik tujuan.

Melihat route perjalanannya.

Sebenarnya dalam menentukan tujuan hidup, logika yang sama dapat dipakai kok. Bukan semata-mata karena paling benar, tapi karena kesederhanannya, sehingga bisa diterapkan ke dalam banyak hal.

Menentukan titik awal

Dalam menentukan tujuan, yang harus dilihat adalah kondisi internal orang nya dulu. Seperti apa orangnya, apa sifatnya, apa kebaikannya, apa keburukannya. Mungkin kalau dalam ilmu marketing, dilakukan analisis SW dulu dalam SWOT nya. Mengenali diri sendiri itu perlu, karena akan menjadi punya banyak pemahaman yang baru dalam dirinya.

Banyak pengalaman yang bisa saya share mengenai hal ini. Banyak orang yang merasa perlu melakukan sesuatu tanpa tahu alasan pasti selain bahwa itu adalah sesuatu yang baik dan benar. Kemarin baru saja ada teman yang bertanya, bagaimana cara nya supaya membatasi belanja baju mahal, karena istrinya mulai terganggu dengan itu.

Setelah berbincang lama, ternyata beliau bekerja sebagai seorang marketing dan perlu networking kemana-mana dalam pekerjaannya. Ternyata memang beliau punya keahlian dalam approaching orang-orang besar dalam networkingnya.

Tapi mau berhenti belanja baju mahal ? Karena takut boros (bukan takut uangnya habis), nah loh..gimana tuh..?

Kadangkala orang berpikir ingin berubah ke arah yang lebih baik, tapi cuma karena alasan bahwa hal itu baik di mata umum. Tapi jadi melenceng dari yang dia butuhkan.

Tahu dan mengenali dirinya sendiri adalah sebuah langkah awal dalam menentukan arah kehidupan. Bukan karena orang wajib tahu dirinya, tapi karena akan punya pemahaman yang berbeda mengenai dirinya ketika sudah kenal.

Iya kok, kadang kita punya toleransi dan kemakluman sendiri terhadap perilaku seseorang ketika sudah kenal dengan orangnya. Misalnya orang itu jutek, karena dia memang punya toko, dan terbiasa komunikasi dengan pegawainya dengan metode jutek. Jadi wajar aja kalau terbawa ke kehidupan sehari-hari.

Tapi jarang orang yang memahami konsep ini untuk diri sendiri, karena hal yang sama juga akan terjadi ke kita sendiri ketika semakin mengenal diri kita sendiri. Semua karena ada pemahaman baru.

  1. Menentukan titik tujuan.

Sayangnya tidak banyak ilmu pengetahuan / science yang bisa digunakan untuk mencari referensi kemana tujuan hidup orang sebenarnya. Menentukan minat dan bakat mungkin sudah ada ya, Tapi sesuai namanya, itu mengidentifikasi minat dan bakat seseorang saja, bukan tujuan hidupnya.

Permasalahannya, banyak yang menganggap semua manusia adalah sama. Kalau saya bisa, mengapa dia tidak bisa ? Kalau saya yakin satu hal ini adalah benar, kenapa orang lain tidak bisa melihat hal yang sama ? Kalau saya berhasil dalam hidup karena kebiasaan yang begini, kenapa orang lain tidak melakukan hal yang sama ?

Padahal pada realita nya, semua orang diciptakan berbeda fisiknya, dalam artian tidak sama persis. Itu baru fisiknya. Apalagi pola pikirnya, dan kebiasaannya ? Karena pengalaman dan perjalanan hidup setiap orang pun tidak sama.

Mau gak mau dalam menentukan ini harus menggunakan analisis tersendiri, yang nantinya berbeda-beda hasilnya untuk semua orang. Analisis nya pun harus punya patokan awal. Sementara bentuk keilmuan yang ada, belum memiliki basis mengenai penentu tujuan hidup setiap manusia di dunia ini.

  1. Menentukan route perjalanannya.

Setelah tahu titik start dan finishnya, baru bisa melihat rute perjalanannya dan menjalani kehidupan ini.

Apa yang bisa dibantu dalam hal ini ?

Sebenarnya paling maksimum yang bisa dibantu oleh orang lain adalah memberikan metode untuk mengenali titik start, dan memberikan referensi mengenai titik finish. Tapi orangnya sendiri yang harus menjalani rute perjalanan hidupnya, karena dalam hal itu, tidak ada siapapun yang bisa membantu.

Paling maksimum mengenai perjalanan, adalah membantu memberikan bekal yang cukup dalam menghadapi perjalanan. Tapi perjalanannya sendiri, tetap harus dilakukan oleh orangnya.

Tapi di luar itu semua, perbincangan ini diawali dengan sebuah pengertian bahwa pola pikir yang sederhana lah yang bisa membuka semua perbincangan dan diskusi untuk bisa berlanjut.

Terapi.

Sebenarnya sejak awal tahun, dan seperti di tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya memberikan sebuah terapi dengan metode ini. metode tiga titik untuk menentukan langkah hidup berikutnya, terutama pada teman-teman di Quora ini.

Tapi dasar keilmuan yang digunakan memang sebuah pseudoscience, karena selama ini masih belum menemukan keilmuan yang pas untuk menentukan arah dan tujuan hidup manusia.

Dalam terapi ini, saya memberikan analisis titik awal (pengenalan diri) singkat, berupa pembacaan karakter dari tanda tangan seseorang. Lalu menentukan titik finish dengan menggunakan hitungan hari lahir dengan perhitungan Jawa Kuno. Sementara untuk perjalanannya, dilakukan terapi menulis yang dilakukan secara mandiri.

Beberapa teman di Quora sudah mencoba hal ini, dan beberapa optimal hasilnya.

Mungkin ada teman-teman di Quora ini yang bersedia untuk berbagi cerita mengenai terapi nya, tapi ya karena confidentiality jadi sama sekali tidak dipaksakan.

Training.

Sementara kegiatan terapi ini tetap berjalan dan masih ada yang mengikuti, tiba-tiba saya punya pemikiran, kenapa nggak bikin sebuah training ya mengenai ini ? Sehingga bisa dillakukan sekali, dan hasilnya bisa dinikmati oleh banyak orang untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Terutama mengenai pola pikir tiga titik awal menentukan langkah kehidupan.

Saya sudah buat sebuah modul mengenai hal ini, dan beberapa teman sudah menyatakan ketertarikannya, tapi masih belum punya sebuah contoh kasus yang bisa diajukan. Karena modul training ini sebenarnya sudah pernah saya terapkan dan lakukan secara terpisah-pisah, tetapi ketika dirangkai menjadi satu kesatuan, menjadi sesuatu yang baru dan belum pernah dilakukan.

Pengen rasanya menyebut training ini sebagai sebuah langkah awal spiritual. Karena memang tujuannya untuk mengenali diri sendiri dulu, untuk kemudian berdiskusi dan menentukan tujuan hidup dari masing-masing. Dan melibatkan aktvitas meditasi dan kontemplasi. Serta diseling dengan pembacaan aura dan perhitungan tanggal lahir.

Diharapkan tujuan akhirnya adalah peserta dapat menganalisis sendiri dan menentukan arah dan tujuan kehidupannya, dengan meningkatkan pemahaman mengenai keunikan dan perbedaan yang ada dalam dirinya.

Sebelum saya menjalankan hal ini, bersama ini saya mengundang teman-teman yang berpengalaman dalam hal training, yang bersedia meluangkan waktu dan bertukar pikiran, sehingga melengkapi dan memantapkan konsep training yang sedang dibuat ini. In short, saya nyari teman diskusi yang pas, untuk bisa bertukar pendapat mengenai program training.

Sebelumnya diucapkan terima kasih karena telah membaca tulisan panjang ini sampai akhir, semoga dalam kehidupan anda ke depannya memiliki banyak berkah dan keberuntungan.

Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar