Bukan tentang arah setelahnya, bukan tentang kehidupan setelahnya, bukan tentang peristiwa setelahnya…
Tetapi tentang pengalaman mengenai perisitiwa kematian..
Cerita pertama..
Dimulai dari 2 minggu yang lalu, malam dini hari di tanggal 19 Agustus, Ayah saya tutup usia dan berpulang kepada Sang Pencipta di usia 74 tahun. Kami semua anak-anaknya dan cucunya ada di samping beliau, dan menyaksikan betapa indah dan mudahnya beliau mengalami kondisi berpulang. Hanya terbangun di jam 00:30, memanggil semua orang untuk berkumpul, dan menghela nafas 3 kali, Beliau sudah berpulang.
Sedikit latar belakang ceritanya, beliau terkena serangan jantung pertama di usia 42 tahun, setelah itu mengalami berbagai macam tindakan dan treatment medis selama kurang lebih 20 tahun. Mulai dari hanya dibalon, open heart surgery, pasang ring (beberapa), sampai akhirnya di usia 64 atau 65, ketika dokter menyatakan fungsi pompa jantung beliau tinggal 35-40%, Beliaru mengatakan untuk berhenti berobat dan berhenti mengambil tindakan medis.
Sejak saat itu Beliau mengatakan hanya ingin melakukan kegiatan dan aktivitas yang diinginkannya, tanpa mau dilarang-larang lagi karena penyakitnya. Kami pun dengan berat hati memberikan respect kepada keputusan beliau dan membebaskannya. Beliau mau jalan-jalan ya kami antar, hampir setiap hari beliau makan makanan padang kesukaannya, dan seminggu sekali pasti pesan sop kaki kambing favoritnya.
Alhasil, Beliau hidup bahagia selama 10 tahunan lebih, dengan cara nya sendiri, dan berpulang di usia 74.
Selamat jalan Pah, selamat beristirahat dan sampai kita ketemu lagi di sana
Yang pertama saya ingin bahas dari peristiwa ini bukan soal kehilangannya. Kalau soal itu, jelas kami semua merasa sangat kehilangan. Tapi untuk bersedih ? Pasti ada, tapi kami sekeluarga sudah punya mindset untuk bersyukur setiap hari karena Beliau sudah dikaruniai waktu sekitar 32 tahun sejak menderita serangan jantung pertamanya. Dan melihat Beliau setiap hari semakin melemah, kami pun merasa tersentuh dan tidak tega melihatnya. Kami sekeluarga puas merawat Beliau sampai akhir hayatnya, dan merasakan hangatnya kasih sayang dan kehadiran beliau. Tapi kami juga akhirnya bisa sadar, bahwa tidak bisa egois untuk selalu mengharapkan Beliau tetap ada di sini, sementara kondisi fisiknya semakin melemah.
Yang saya ingin bahas adalah, kenyataan bahwa banyak legacy Beliau yang ternyata kami tidak tahu. Sementara di hari kepulangan Beliau, Kami sekeluarga mendapat banyak tamu yang ingin mengucapkan bela sungkawa dan duka cita. Tapi begitu banyak cerita baru yang kami dengar mengenai Beliau, yang sama sekali belum pernah kami dengar sebelumnya.
Banyak saudara dan teman Beliau yang memberikan cerita baru tentang Ayah kami. Kami baru mengetahui di akhir hayat Ayah kami, bahwa Beliau ternyata sering memberikan bantuan kepada saudara dan teman-teman, di luar pengetahuan Kami. Banyak cerita tentang uang sekolah kepada anak dari saudara jauh yang selalu ditransfer dan diberikan sampai lulus, banyak cerita mengenai memasukkan teman ke pekerjaan baru yang mengangkat status sosial orang tersebut, banyak cerita mengenai bantuan yang diberikan Ayah kepada orang-orang di sekitarnya. Terus terang kami kaget dan sekaligus tidak menyangka akan hal ini.
Pelajaran yang bisa saya ambil dari peristiwa di cerita pertama ini adalah, sekenal-kenalnya anda dengan seseorang, yang menghabiskan seumur hidup bersamanya, tetap saja ada sisi lain yang anda tidak akan pernah tahu. Sampai orang lain menceritakannya ketika orang tersebut berpulang.
“Persepsi anda terhadap orang yang anda kenal, belum lah lengkap, sampai anda melihat mereka dari kaca mata orang lain. ”
Cerita kedua, adalah minggu lalu..
Minggu lalu kebetulan kenal dengan teman di Quora, dan kami banyak berdiskusi melalu dm, dan banyak cerita dari “teman” ini.
“Hai teman, kalau dirimu tidak berkenan cerita ini beredar, message saya via dm ya, nanti akan saya turunkan ceritanya. Tapi yang jelas saya salut dengan ceritamu, dan sangat memberikan inspirasi buat saya pribadi, sehingga membuatnya menjadi layak dibagikan..semoga bisa memberi sesuatu yang baik kepada orang yang membacanya..”
Teman ini bercerita kalau kehilangan keluarganya juga, kehilangan untuk selamanya karena keluarga nya ber”pulang” dengan tiba-tiba. Bukan hanya 1 orang, tetapi 2 orang sekaligus pergi berpulang meninggalkan dirinya. Sekarang kondisinya beliau sendirian mengarungi kehidupan ini.
Tapi selama message-message an dalam dm di Quora, ada kah terkesan 1 atau 2 kata kemarahan ? Tidak ada sama sekali. Ada kah 1 atau 2 kata tentang kekecewaan ? Tidak ada sama sekali. Sang Teman ini hanya menyiratkan banyak sekali “rasa” penyesalan, bahwa belum sempat meminta maaf kepada yang pergi meninggalkan. Belum sempat membuat mereka bisa merasakan bahagia, dan sudah bisa menerima, tetapi belum bisa menghilangkan rasa menyesal belum sanggup membahagiakan yang pergi.
“Bro, elu kereeeeeen..”
Beneran kata-kata itu yang saya berikan kepada Sang Teman, dalam hati, saya malu kalau sampai itu kejadian kepada saya tetapi tidak bisa sekuat dia. Dia bisa tegar menghadapi hidupnya, pasti kehilangan motivasi hidup, itu pasti dan wajar. Karena Sang Teman ini tidak bisa menemukan lagi untuk siapa sekarang saya harus bekerja ini ? Karena semua yang ingin saya bahagiakan sudah pergi ?
Tapi berlarut dalam rasa marah dan sedih..tidak ada sedikitpun saya temukan dalam kata-kata Sang teman ini selama message. Keren pandangannya, tabah, semua rasa saya bisa nilai adalah rasa yang wajar untuk orang yang ditinggalkan. Tetapi pandangan yang optimis, tetap bisa ada di Teman ini.
Pelajaran yang bisa saya ambil adalah, ternyata setiap orang yang ada di sekitarmu, mau kenal lama, mau baru kenal, ternyata bisa dan mampu membuat dirimu menjadi lebih kuat. Itu pelajaran yang saya dapatkan. Ternyata saya yang baru ditinggal Ayah saya, bisa menemukan kekuatan baru dari cerita seorang teman yang baru kenal, yang merasakan kehilangan lebih besar lagi dari saya, tetapi bisa tetap bersikap positif dan memandang kehidupan ke depan nya dengan lebih optimis dan terang.
Buat sang teman :
Sorry ya Bro, ceritamu saya tulis di sini. Thank you sudah memberikan kekuatan buat saya thank you buat ceritanya yang bikin saya sadar, kalau ternyata bisa kok sekuat itu . Saya tulis di sini kisahmu, bukan karena ingin pamer atau ingin membagikan kisamu tanpa ijin. Tapi ingin membalas dirimu, Dirimu secara gak sengaja udah bisa kasih kekuatan kepada saya, saya ingin menulis kisahmu, agar yang membaca mengirimkan doa keselamatan dan kekuatan kepada dirimu. Itu saja maksudnya kok, saya gak akan spill namanya, tapi Beliau ini orang hebat Thank you buat “rasa” nya bro…for sure it will be given back to you in a way the Universe wanted it to..
Cerita ketiga…
Kemarin baru saja saya kembali dari perjalanan Ziarah ke makam keluarga di Ciamis, Jawa Barat. Kebetulan kami sekeluarga memiliki “rasa” yang sama, yaitu kerinduan untuk melakukan perjalanan dan mengirimkan doa kepada para keluarga dan leluhur yang sudah berpulang mendahului kami.
Perjalan dimulai di pagi hari, dan start dari Jakarta, dengan perkiraan perjalanan selama 5-6 jam dengan kendaraan.
Setibanya di daerah Ciamis, kami memberikan doa dan penghormatan dengan cara kami, dan merasakan kedamaian dan kenikmatan energi yang diberikan oleh alam, baik selama dalam perjalanan ataupun ketika sudah sampai di sana.

Sebenarnya cerita ketiga yang berupa cerita pendek sekali ini hanyalah sebuah pengingat, terutama untuk saya, bahwa pada akhirnya saya bisa sampai kepada kesimpulan bahwa…
Ternyata energi untuk menjalankan hidup bisa kita dapatkan dari mana saja, dari orang sekitar, dari orang yang baru kenal, maupun dari sebuah perjalanan…
Semoga semua bisa melihat hal itu, dan merasakannya.
Terima kasih sudah membaca dongeng saya sampai akhir, dan terima kasih sudah ikut merasakaan energinya.
